Cermin Diri #122: Sukun Takeran

0
318

KLIKMU.CO-

Oleh: Mushlihin*

Keluargaku di dusun Takeran punya kebun. Dikelola secara turun- temurun. Ditanami palawija berupa padi, jagung, kacang, singkong, pisang, umbi, dan sukun.

Sewaktu aku masih remaja sering membantu bapak memetik sukun. Bapak memanjat sampai belasan meter. Lalu kuulurkan galah panjang. Di bagian pucuk dipasang sabit. Untuk mengiris gagang buah. Sukun berjatuhan ke lumpur. Kuamati dan kuhitung atau kadang kuambil langsung. Lalu kucuci di kubangan (jublang).

Setelah bersih kumasukkan keranjang. Lantas kusunggi pulang. Dengan cara meletakkan barang tersebut di atas kepala.

Sesampai di rumah sukun diolah mbok. Direbus, digoreng, dan dikolak. Jika panennya melimpah, dijual ke pasar. Kadang dibagikan ke tetangga. Sebab tidak semua warga memilikinya.

Maka tidak jarang penduduk yang leles. Mencari sisa-sisa reruntuhan. Keluargaku membiarkan. Dianggap sebagai sedekah tanpa susah payah mengantarkan.

Sebaliknya tak semua saudaraku menyukai buah sukun. Kadang mbok sudah capek membuat camilan, tapi tidak dicicipi. Sehingga dikasihkan pada sapi.

Hingga kini sukunku masih kukuh. Berkembang biak di sepanjang pematang. Ada beberapa teman yang minta bibitnya. Kuberikan cuma-cuma.

Beberapa tahun kemudian, mereka bercerita. Bahwa pohon sukunnya tumbuh kembang dan berbuah. Aku pun turut bersuka cita.

Adapula sahabat yang pesan daunnya. Kukabulkan permohonannya selagi bisa. Tanpa basa-basi penggunaannya.

Kala matahari menyingsing aku rindu mbok. Kucari kesana kemari. Ternyata mbok memanen kacang hijau. Di bawah pohon sukun. Kebetulan buahnya berjatuhan terhempas angin. Aku disuruh mengambilnya.

Setiba di rumah, kuserahkan istri. Terus dikupas dan direbus. Sesudah itu kami nikmati. Sebelum kenyang kami berhenti. Mengikuti anjuran Nabi. Sebaliknya bila diteruskan akan menjadi lemak jahat yang sulit diobati.

Selanjutnya muncul hasrat mengkaji pustaka tentang sukun. Wikipedia menyebut nama pohon yang berbuah itu dengan keluih, kulur, ketimbul atau timbul. Buah sukun tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, yang mirip roti setelah dimasak atau digoreng. Karena itu, orang-orang Eropa mengenalnya sebagai “buah roti”. Nama ilmiahnya Artocarpus altilis.

Berikutnya aku menelusuri google. Ternyata tanaman sukun tumbuh di seluruh bagian Asia Tenggara, Indo Pasifik, Karibia, Afrika dan lebih dari 80 negara. Secara tradisional buah ini memiliki berbagai manfaat. Dipakai obat dan makanan, baik untuk manusia maupun hewan. Pembangunan kano dan rumah. Bahkan sebagai penolak serangga.

Beberapa manfaat lainnya yaitu mengatasi gangguan tidur, sel kanker, kolesterol, jantung, radang, diabetes, hepatitis, tulang keropos, asam urat, ginjal, lambung dan rambut rontok.

Jadi sukun rupanya sangat menyehatkan dan penting untuk kecantikan. Cocok pula buat ibu hamil dan diet. Karena kaya akan nutrisi, vitamin, meneral dan rendah kalori. Maka perlu dibudi dayakan. Sekaligus butuh menjalin kerja sama antara penanam, pengelola, dan pedagang. Supaya lebih manfaat dan memperoleh hasil yang optimal.

*Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here