Cermin Diri # 127: Sendang Takeran

0
331
Foto ilustrasi sendang diambil dari purwokertoguidance.com

KLIKMU.CO

Oleh: MUshlihin*

Di dekat rumahku dusun Takeran ada sendang. Lanangan dan wedokan (pemandian putra dan putri). Menurut KBBI berarti kolam di pegunungan yang airnya berasal dari mata air yang ada di dalamnya. Airnya sejuk dibuat minum dan mandi. Peninggalan nenek moyang. Tak ada yang tahu pasti kapan dibangunnya.

Sejak aku kanak-kanak sudah terbiasa mandi di sendang. Sehingga mahir berenang dan menyelam sambil minum. Sekaligus mencari uang logam. Air bening berubah butek. Orang-orang dewasa pada marah. Pun membuang bajuku, biar cepat mentas. Keluar dari air.

Saat Ibtidaiyah sampai Aliyah aku sering tidur di masjid. Tempat bersuci dan kencing ya berjalan ke sendang. Walau gelap dan hujan tak jadi penghalang. Pun sering gotong royong menimba air sendang untuk mengisi jeding masjid.

Selepas itu kuliah di UIN Malang. Pas liburan, teman kos dari Jakarta ikut pulang. Karena di rumahku belum punya kamar mandi. Maka kuajak ke sendang untuk membersihkan badan. Berhubung belum pengalaman, ia terpeleset. Pakaiannya basah kuyup. Untung tidak patah tulang.

Setelah wisuda aku pun masih sering mandi ke sendang. Sekalian mencuci pakaian. Kadang sambil menangkap ikan. Cuma tidak lagi minum air mentah dari sendang, melainkan air matang.

Baru awal tahun dua ribu, aku jarang ke sendang. Lantaran ada program pipanisasi air bersih ke warga oleh perusahaan milik yayasan. Senyampang membuat toilet sesuai standar kesehatan.

Sekitar 2010 aku sesekali ke sendang. Dalam rangka momong anak. Plus mengajari berenang, menyelam dan bersenang-senang.

April 2020 malah bolak balik ke sendang. Sebab aku ditunjuk sebagai anggota tim pelaksana kegiatan rehabilitasi sendang. Anggaran Dana Desa. Tugas tim adalah menyusun, melaksanakan, mengendalikan, mendokumentasikan, menandatangani kerja sama dan laporan.

Manfaat utama dari pembangunan tersebut adalah memelihara aset desa. Di samping untuk tempat berlibur masyarakat. Tatkala mengantar istri ke pasar. Maupun kala menunggu antrean pelayanan di balai desa.

Ketika Agustusan sendang makin ramai dipakai aneka perlombaan. Seperti kepruk guling, panjat pinang, mancing, dan flying fox serta halang rintang.

Gadis-gadis desa tiap pagi pergi ke sendang untuk menghemat biaya air minum. Biasanya mereka jua mandi dan mencuci pada air yang jernih. Karena mengalir terus alias nyumber.

Para pedagang, penggali kubur, peternak dan petani tak ketinggalan memanfaatkan potensi alam itu. Biarpun kemarau panjang, sendang tidak pernah kering kerontang.

Lebih dari itu dari pancaran mata air sendang telah menumbuhkan biji-bijian, buah, sayur, rerumputan, pepohonan dan taman yang rindang. Sebagaimana firman-Nya:
أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا
Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (Surat An-Nazi’at, ayat 31).

Walhasil mari pelihara aset desa yang kaya sumber daya alam. Semua itu untuk kesenangan kita dan hewan ternak. Jangan dikotori dan diterlantarkan. Supaya dapat pula dinikmati generasi mendatang.

*LPM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here