Cermin Diri #128: Tak Mengapa Menyikat Gigi Saat Puasa

0
291
Foto Ilutrasi diambil dari bukalapak

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Ketika Ramadan menjelang akhir , baru ada kemantapan rutin bersikat gigi setiap wudu. Baik hendak salat maupun hadas kecil.

Sebelumnya khawatir kalau sikat gigi mengurangi kesempurnaan puasa. Sehingga hanya dilakukan usai makan dan mau tidur.

Setelah membaca buku Mulkhan (1994) dan Jamaluddin (2016) diperoleh wawasan. Bahwa tidak mengapa kita menggosok atau bersikat gigi dalam keadaan berpuasa. Dasarnya adalah hadis Amir bin Rabiah yang melihat Rasulullah menggosok gigi yang tidak dapat dihitung sedang dalam puasa. Seperti diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi.

Utamanya sikat gigi setiap berwudu. Hal ini terbersit pada keinginan Rasulullah sebagai berikut: “Sekiranya tidak memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan bersiwak pada setiap wudu.” (HR. Bukhari).

Puasa ditujukan untuk orang yang beriman agar bertakwa. Cirinya hidup bersih. Dalam rangka menjaga kebersihan dan keharuman mulut serta kesegaran nafas, adalah sikat gigi.

Sebaliknya bau mulut pasti mengganggu orang sekitarnya. Silaturrahmi jadi kurang percaya diri. Komunikasi terhambat. Kultum berantakan. Gagal fokus menjadi imam. Tatap muka kian masam. Tadarus tidak tenang. Salat jamaah kurang tumakninah.

Gigi yang tidak bersih juga menjadi sarang penyakit. Gusi bengkak. Karang gigi mengeras. Menguning warnanya. Keropos, berlubang, tanggal dan ompong. Tidak bisa mengunyah dan menggigit. Takjil dan sahur tak berselera. Meski menunya 4 sehat 5 sempurna.

Semoga dengan bersikat gigi setiap wudu, usai makan dan mau tidur saat puasa, mulut bersih dan harum serta hidup sehat. Sebab puasa semestinya menyehatkan. Tidak malah sakit gigi. Akibat enggan bersiwak.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here