Cermin Diri #13: Tilik Haji

0
181
Foto Jamaah Haji Asal indonesia diambil dari dokumen pribadi mushlihin

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Kamis sore si sulung diajak emak anjangsana ke rumah kyai haji bersamaan yukaji. Yang baru saja pulang dari tanah suci. Meski sibuk ia harus mentaati. Sampai di lokasi ia menunggu di luar seorang diri. Sebab kebanyakan tamunya adalah para istri. Tak ada yang berjenis kelamin lelaki.

Esoknya sulung diajak lagi yukaji dan teman sejawatnya. Ziarah ke rumah orang tua sekantor yang baru pulang dari Baitullah. Ia disarankan membawa bekal gula senilai sembilan puluhan ribu rupiah. Teman wanitanya menawarkan diri membelikannya. Sebagai ucapan terima kasih ia menyedekahkan uang kembaliannya. Dia sangat gembira.

Sekitar jam 11 rombongan berangkat. Melewati jalan desa dan rumah penduduk yang cukup padat. Alhamdulillah sampai di tujuan dengan selamat.

Kemudian mereka disuguhi aneka hidangan lezat. Tak ketinggalan kurma, kacang Arab dan air zam-zam yang sangat berkhasiat. Asal dimakan dalam jumlah ganjil, kata nabi kurma bebas gula dan mengandung karbohidrat. Tuan rumah pun menyambutnya dengan hormat. Berbaju gamis dan peci putih mengkilat. Laksana alim ulama yang memikat. Lalu taulan pulang dikasih sarung tenun ikat. Setelah mengucapkan doa sapu jagat untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Hadirin mengamini dengan hikmat.

Selanjutnya peziarah menuju rumah sesama guru. Yang berkesempatan haji lebih dulu. Berhubung bertepatan salat jumat, sehingga agak terburu-buru. Namun para tamu tetap diberi sesuatu. Berupa kain yang bisa digunakan baju. Bapak ibu sangat terharu. Karena nama-namanya pun dikubur dekat kakbah di balik batu. Cara tersebut dipercaya cukup jitu. Walau doanya terkesan kaku. Maklum belum hafal dan masih membaca buku saku. “Maaf doanya singkat” celotehnya sambil tersipu. “Setuju” jawaban para tamu. Begitulah sesama guru, kalau sudah ketemu pasti melucu dan tidak saling mengganggu.

Habis asar istri sulung memohon sowan ke kediaman kyai haji Muhammad di tepi jalan raya. Mumpung bersamaan yukaji yang diantar putranya. Mulanya ia segan masuk lantaran empunya tak kelihatan batang hidungnya. Ketika nampak langsung diserbu seluruh tamu pria. Biarpun berpakaian sederhana tanpa kopiah. Tidak cukur gundul dan pasang banner besar sebagaima hujjaj lainnya.Padahal beliau adalah Pimpinan Daerah Majelis Ulama Indonesia. Yang sering berdakwah hingga keluar kota. Sebelumnya ia dipanggil kyai saja. Kini namanya ditambah haji dan lengkap sudah gelar yang disandangnya. Ia semakin berwibawa. Disegani kawan dan lawannya.

Beberapa fenomena unik di atas pertanda bahwa ada gengsi bagi orang yang telah menunaikan haji. Lagipula menyedot perhatian kolega, tetangga dan sanak famili. Mereka rela antri berhar-hari demi memperoleh doanya yang mustajabah dan syukur disertai buah tangan sajadah, panci, atau sabun cuci.

Sayang seribu sayang ada sebagian orang yang silaturrahmi sekaligus tilik haji niatnya berharap mendapat imbalan yang lebih layak. Jika tidak sebanding, pasti dihujat dan diceritakan pada khalayak. Mohon maaf itulah yang kadang dilakukan emak-emak.

Lebih parah lagi umpama terdengar kyai haji dan ummi. Pertengkaran bakal sulit dilerai. Akibatnya menghapus pahala kedua mempelai. Baik peziarah maupun famili kyai haji.

Atas dasar itulah mari jadikan tradisi tilik haji sebagai sarana memperbaiki diri. Membiasakan hanya memberi dan saling berbagi serta tak harap kembali yang lebih tinggi. Semoga Allah selalu memberkahi. Selalu bahagia di dunia dan di akhirat nanti.

Selanjutnya sulung, yukaji dan para istri pamit pulang dengan ucapan assalamualaikum. Sedang kyai haji membalasnya wa alaikum salam. Sungguh pemandangan yang amat menawan dan perlu dilestarikan. Dalam rangka meningkatkan persaudaraan antar umat Islam. Yang kini mulai renggang, akibat kesibukan, beda paham dan pilihan.

 

*Penulis tinggal di Takerharjo Solokuro dan guru smp Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here