Cermin Diri #130: Kifarat Bersetubuh

0
549
Foto diambil dari TribunNews

KLIKMU.CO

Mushlihin

Ramadan pukul 00.55 ada panggilan suara tak terjawab. Dilanjut pesan singkat tentang perselingkuhan yang digerebek. Terus diarak ke balai desa. Tanpa kekerasan. Karena sudah diperingatkan berulang-ulang.

Pemerintah desa memberlakukan hukum adat. Setelah tersangka mengakui perbuatannya. Si ibu didenda pedel 5 rit. Sedang si bapak di denda 10 rit. Juga harus siap bertanggung jawab telah merusak rumah tangga si ibu. Bahkan diamankan di Polsek.

Tindakan Pemerintah Desa, BPD, Linmas, beserta aparat diakui merupakan solusi tepat. Sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Walaupun resikonya sangat pahit. Dimusuhi keluarga tersangka.

Menurut fikih semestinya hukuman zina bagi orang yang sudah menikah ialah dirajam. Dilempari batu yang berukuran sedang hingga benar-benar mati.

Tujuannya memberikan pelajaran agar tidak terulang lagi. Syukur tidak mendekatinya. Karena zina adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.

Selanjutnya bagaimana denda kalau menggauli istri saat puasa? Perlu dipahami bahwa puasa adalah ibadah yang dikerjakan dengan tidak makan dan minum serta mencampuri istri sejak terbit fajar hingga matahari terbenam atau magrib. Bila dilanggar puasanya dinyatakan batal.

Pun wajib membayar kifarat. Khususnya yang bersetubuh. Yaitu memerdekakan hamba sahaya. Bila tak dapat, berpuasalah berturut-turut. Bila tidak kuat, maka berilah makan 60 orang miskin, masing-masing 1 mud=6 ons=0,5 liter. Terus berpuasalah sehari untuk ganti puasa yang batal.

Sebagaimana hadis riwayat Bukhari. Dari Abu Hurairah, ketika sedang duduk bersama Nabi, tetiba datang seorang lelaki. Lalu katanya, “hai Rasulullah, celakalah aku.” Sahut beliau, “mengapa kamu?” Katanya, “saya mengumpuli istriku saat puasa Ramadan.” Maka sabda Rasulullah, “adakah padamu budak yang dapat dimerdekakan?” Jawabnya, “Tidak.” Nabi berkata, dapatkah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Jawabnya, “tidak.” Nabi berkata, dapatkah kamu memberi makan 60 orang miskin?” Jawabnya, “tidak.”

Berkata Abu Hurairah bahwa lelaki itu tetap diam. Kebetulan ada yang memberi sekeranjang kurma. Lalu Nabi bertanya, “di mana penanya tadi?” Lelaki itu menyahut, “saya.” Sabda beliau, “ambillah ini dan sedekahkanlah.”
Kata lelaki itu, “apa saya sedekahkan orang yang lebih miskin dari saya. Demi Allah, tidak ada di antara kedua bukit hitam kota Madinah ini yang lebih miskin dari saya.” Maka tertawalah Nabi hingga nampak gigi taringnya, kemudian bersabda, “berikanlah makanan itu kepada ahlimu.”

Jadi hikmah kifarat bersetubuh saat puasa yaitu supaya pelaku benar-benar menyesali kekeliruan. Lebih hati-hati dan pandai menahan diri. Juga merupakan tanda taubat serta penebus dosa.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here