Cermin Diri #132: Jangan Bilang Lebaran

0
336
Foto penulis ( duduk berpeci) bersama kelurga diambil dari dokumen keluarga

KLIKMU.CO-

Oleh: Mushlihin*

Lebaran dalam bahasa Jawa berarti hilang semua, berhenti sama sekali, selesai semua atau habis tak tersisa. Sedang dalam kamus bahasa Inggris disebut day of celebrate at end of fasting month (hari raya usai sebulan puasa). Lalu bahasa Arabnya dikenal idulfitri. Artinya hari raya kemenangan umat Islam usai puasa alias suci dan bersih dari dosa.

Idulfitri seharusnya jangan diganti dengan lebaran. Sebagaimana yang viral di media massa baik cetak maupun elektronik. Karena konotasinya negatif. Hilang semua kebajikan yang telah dilatih selama Ramadan. Dengan lain kata seluruh pantangan yang harus dihindari malah diterjang tanpa takut dosa. Mulut, mata dan telinga sulit dijaga dari sifat tercela.

Rasulullah menuntunkan, agar takbiran mengagungkan nama Allah saat matahari terbenam di akhir Ramadan sampai dimulainya salat id. Justru dinodai dengan pasang mercon, petasan dan kembang api. Tiada guna dan berbahaya. Sekaligus mengganggu ketentraman umat serta ketakutan pada balita.

Di samping itu kalau diamati, sejalan berakhirnya Ramadan, maka salat jamaahnya tambah maju barisannya alias berkurang. Padahal nyata selisihnya 27 derajat dibanding salat sendiri. Kemudian salat itu juga nikmat dan sehat. Meski sudah tahu demikian tapi enggan mendirikannya. Lantaran menuruti hawa nafsu yang cenderung pada keburukan. Penyesalan terjadi jika telah mati.

Pengajian bedah kitab dan membumikan Alquran hanya kadang -kadang (jarang) dilakukan. Bahkan mandek. Alasannya kurang dana, sibuk bekerja, kehabisan bahan (materi), membosankan dan kurangnya penghargaan. Jika benar apa yang disampaikan, sedikit yang memuji. Sebaliknya bila ada kesalahan sepele, malahan dibesarkan dan dipergunjingkan. Terlebih sudah ada bibit kebencian. Maka apa yang dikatakan seakan-akan kicauan yang menyakitkan hati dan menyesakkan telinga.

Kaki terasa berat melangkah ke masjid terdekat. padahal masuknya gratis tanpa karcis. Di dalam masjid juga nyaman, damai dan menyenangkan serta disediakan makanan atau minuman. Pun pemberian masker dan handsanitizer. Beda dengan Ramadan, jam berapa pun terasa ringan.

Infak dan sedekah mengalami penurunan. Kala Ramadan jutaan perpekan. Setelah itu tinggal ratusan ribu saja. Semestinya jangan berhenti memberi baik saat jaya maupun susah. Selain itu jauhi menyumbang dengan harapan memperoleh imbalan lebih banyak. Contohnya ketika bersilaturrahmi cuma bawa ole-ole sekedarnya, tapi begitu pulang seluruh hidangan diambil hingga kerepotan mengangkutnya

Oleh karena itu seyogyanya idul fitri kita maknai dengan kembali suci lahir batin. Jangan dikotori lagi dengan sikap tak terpuji. Umpamanya iri, benci, caci maki, korupsi dan merasa benar sendiri serta tindakan tak terpuji.

Selanjutnya kemenangan yang diperoleh setelah idulfitri harus dipertahankan. Rajin salat berjamaah. Giat belajar dalam menuntut ilmu. Bayar zakat dan infaq sebagai bekal akhirat.

Akhir kata, Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H. TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM TAQABBAL YAA KARIM MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. Semoga Allah menerima amal ibadah, taubat, dan mempertemukan kita semua dengan Ramadan berikutnya dalam keadaan sehat wal afiat.
والسلام عليكم ورحمه الله وبركاته

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here