Cermin Diri #137: Kesusu

0
197
Foto diambil dari Mirifica News

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Cikgu diingatkan kepala sekolah agar ikut khataman Al-Qur’an pukul 6.45. Tujuannya dalam rangka tolak bala menuju kehidupan new normal. Kegiatan ini terpantau langsung oleh Sekda. “Mari segera persiapan,” pungkasnya.

“Alah, masih dua jam lagi,” gerutu Cikgu.

Sehingga Cikgu tetap asyik mengobrol online. Sekaligus Ia senam jari membersihkan sampah yang memenuhi memori. Sampai jam 6 Ia baru mandi, lalu berbusana serba putih dan salat duha. Tapi ia tak sarapan, sebab sedang puasa enam hari di bulan Syawal.

Sesudah itu Cikgu mengeluarkan motor. Tak lupa Ia pakai jaket, helm dan masker. Tiba-tiba ada pesan, agar Ia segera merapat. Dengan tergesa-gesa Ia pamitan keluarga. Lantas menaiki motornya. Sekitar 100 meter, ia gerayangi gawainya. Eh, tidak ada dalam sakunya. Maka ia putar balik untuk mengambilnya.

Selepas itu Cikgu gas motornya agar tak telat. Perjalanan sudah 1 km, teringat jua Ia belum mengenakan kopiah. Ia pun pinjam milik saudara terdekatnya. Tetapi rumahnya sepi. Untung Ia lihat kopiah putih di lemari. Almarhum bapak membelinya saat umrah. Peci itu  langsung Ia pakai, meski ada sedikit noda.

Berikutnya Cikgu tidak mau kesusu. Ia naik motor hati-hati. Sambil mengaji hafalan yang dimilikinya penuh konsentrasi. Ia selamat, tiba di sekolah dengan aman sentosa. Ia disambut bapak ibu guru dengan muka ceria. Sekalian mereka saling bermaaf-maafan. Bahkan Ia diberi kehormatan membacakan juz kelima belas.

Cikgu berupaya membaca dengan tartil. Tidak kesusu atau terburu-buru alias tergesa-gesa. Dipahami maknanya. Selanjutnya Ia berucap segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Alquran yang di dalamnya tidak makna yang yang berlawanan dan tidak ada penyimpangan dari kebenaran.

Akhirnya Cikgu juga menyadari kebenaran kitab Nashaihul Ibad. Kata Hatim Al-Asham, ” Tergesa-gesa itu adalah sifat setan, kecuali dalam lima perkara yang justru merupakan tuntunan Rasulullah. Yaitu menjamu tamu yang masuk rumah, mengantarkan jenazah, menikahkan putri yang telah baligh, melunasi hutang kalau jatuh tempo, dan segera taubat bila bersalah.” Namun demikian Ia harus bersikap tenang dan sabar, supaya dapat nikmat nan berkah.

*Sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah Takerharjo Solokuro

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here