Cermin Diri #14: Haji Kok Maki?

0
329
Foto praktek manasik haji diambil dari dokumen pribadi mushlihin

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Amirul haj memimpin Bacaan Talbiyah
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ.
Artinya: “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat hanyalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu” menggema dalam rangka peragaan manasik haji dari halaman PAUD Percontohan. Bacaan sunnah tersebut dilantunkan dengan hikmat ditirukan oleh panitia dan kepala amal usaha.

Di belakangnya berbaris mengular kirap peserta. Didukung parade drumband, mobil hias, replika unta, domba, dan goa berjalan menyusuri jalan desa sampai tanah wakaf dari bu Hajjah. Diikuti warga PAUD se kecamatan berpakaian ihram sejumlah belasan ribu anak dan ibunya. Sambutan masyarakat setempat sungguh luar biasa.

Mereka memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya. Ada yang bertugas sebagai panitia, keamanan, dan relawan. Adapula yang menyumbangkan dana, tenaga dan barang berguna. Para legeslatif DPRD dan eksekutif muspika serta pimpinan ormas pun berbondong-bondong mendatanginya.

Untuk menyaksikan peragaan ihram (berniat memulai mengerjakan ibadah haji). Memakai dua lembar kain yang tidak berjahit bagi pria. Menanggalkan pakaian sehari-hari. Sebagai simbol bahwa semua sama dihadapan Allah. Lalu selama ihram dilarang kawin, bercumbu, durhaka, bertengkar, potong rambut dan kuku, pakai wewangian, menutup kepala, bercadar, bersarung tangan, berburu serta mencabut pohon.

Berikutnya diperagakan wukuf di Arafah mulai dzuhur 9 Dzulhijjah sampai terbit fajar 10 Dzulhijjah. Wukuf merupakan inti ibadah haji dan hakekatnya. Sedang Arafah adalah arena perenungan di tengah kebisingan.

Dari Arafah, para jamaah menuju Muzdalifah. Pada tengah malam, sang haji berdoa di sana, mengumpulkan batu untuk melempar jumrah (melontar setan).

Kemudian tawaf mengelilingi ka’bah lambang kehadiran ilahi tujuh kali putaran dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad (tangan kanan Tuhan di bumi). Ketika tawaf sadarilah bahwa anda telah bergabung bersama seluruh makhluk dalam perjalanan kepatuhan kepada Allah.

Selanjutnya sai, berlari kecil dari bukit shafa (kesucian) ke marwah (kepuasan). Menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berupaya semaksimal mungkin agar memperoleh hasil yang memuaskan.

Setelah itu tahallul, mencukur rambut minimal tiga helai. Menanggalkan dosa dalam diri manusia. Karena itu semakin banyak yang digunting, apalagi gundul lebih baik.

Sungguh haji itu wajib, sekali seumur hidup bagi yang mampu secara material (memiliki biaya di sana maupun di rumah) tanpa menjual tempat tinggal. Lagipula kemampuan fisik yang sehat. Juga kemampuan pengetahuan tentang haji dan kesiapan mental serta keamanan.

Bilamana kemampuan di atas tak terpenuhi, maka orang gampang melakukan perbuatan terlarang. Misalnya berbicara buruk, mencaci, merusak alam, dan bantahan. Apalagi dalam cuaca panas, berdesak-desakan dan kelelahan.

Nah itulah tragedi yang mewarnai peragaan manasik haji yang harus dihindari. Antara panitia pengarah dengan panitia pelaksana dikemudian hari. Sehingga tak ada lagi komentar “pak haji kok maki?”.Dan yang terpenting semoga para tamu Allah yang baru pulang dari baitullah menjadi haji mabrur. Indikatornya adalah tidak saling maki dan terus berbenah diri.

*PRM Takerharjo Solokuro dan guru SMP Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here