Cermin Diri #141: The Encok

0
187
Foto ilustrasi diambil dari Liputan6.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Kala terjaga tulang punggungku sakit. Lisanku berucap, Alhamdulillahi alladzi ahyaana bakda maa amaatana wa ilaihi nusuur. Segala puji bagi Allah, Yang menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepada-Nya kami dibangkitkan. Doa bangun tidur itu kubaca penuh penjiwaan. Encokku yang kambuh sedikit berkurang.

Setelah itu aku berwudu dan salat. Nyeri pinggangku agak hilang, khususnya saat rukuk. Yakni membungkukkan badan seraya meluruskan punggung dengan tengkuk dan telapak tangan kanan memegang lutut kanan. Sedang telapak tangan kiri memegang lutut kiri. Jari-jari tangan agak direnggangkan. Saking lurusnya, umpama ditaruh segelas air tak akan tumpah.

Kecuali bila punggung kian sakit, kulakukan semampunya. Tanpa tumakninah alias tak bisa tenang khusyuk dalam rukuk. Senyampang kuberdoa, Subhana rabbiyal azim. Maha suci Tuhanku yang Maha Agung. Padahal ada doa rukuk lainnya ialah subhanakallahumma rabbanaa wa bi hamdikallahummagfirli. Maha Suci Engkau Ya Allah, Ya Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, ampunilah aku Ya Allah. Atau subbuhun quddusun rabbul malaaikati war ruh.

Selepas itu kubuka terjemahan Al-Qur’an. Surat An-Naml, ayat 62. “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan…” Kalbuku berasa menemukan obat mujarab.

Kemudian kubalas pesan di smartphone dengan ucapan, waalaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuh. Rasa kejang atau pegal pada kaki dan tangan kok masih linu. Maka kuambil sepeda. Berkeliling desa sejam untuk menyapa warga dengan salam, senyum dan santun. Manfaatnya bejibun. Otot menjadi rileks dan pikiran bening. Bahkan perut kenyang, sebab ada saja yang menyuguhi sarapan.

Setiba di rumah, pas ada orang yang meminta-minta. “Sedekahnya pak! Semoga sampeyan ditambahi kekayaan,” Teriaknya dari halaman. Kuulurkan hanya sepeser rupiah. Belum sanggup menyedekahkan semua uang yang kupunya. Namun kuupayakan tidak menghardiknya. Mudah-mudahan dicatat sebagai amal saleh, dan encok yang mendera segera keok.

*Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here