Cermin diri #145: Adab Buang Hajat

0
164
Foto Kali pisingan. Tempat buang hajat oknum masyarakat. diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Pria berusia empat puluh enam mengeluh susah buang hajat. Kadang berak darah. Sesekali impotensi. Ia belum mau periksa ke dokter. Hanya minum obat wasir, berdasarkan rabaannya. Sehingga sakitnya masih kambuh. Walaupun jarang terjadi.

Pas 17 Ramadan ia baca buku. Adab buang hajat. Ia tercenung. Ternyata kebiasaan buang hajat selama ini kurang beradab. Misalnya tidak pakai alas kaki, mendahulukan kaki kanan, membawa masuk apa saja yang di dalamnya terdapat zikir kepada Allah, lupa berdoa, menghadap kiblat atau membelakanginya, dan mengobrol serta terlihat orang.

Selain itu pernah buang air di lubang binatang, kali, tepi jalan, dan kebun. Padahal itu tempat terlarang. Rasulullah bersabda, “Takutilah tiga perkara yang menimbulkan laknat. Pertama buang air besar di saluran atau sumber air. Kedua di tengah jalan. Ketiga di tempat orang berteduh.” (HR. Abu Dawud).

Selanjutnya ia memperbanyak doa. “Aku minta ampun kepada-Mu. Ya Allah lindungi diriku dari setan laki-laki dan setan wanita. Tidak susah buang air. Terhindar dari berak darah. Sembuh dari sakit wasir dan impoten.”

Sekaligus ia bertekad melakukan adab buang hajat sesuai syariat Islam. Yakni melepas barang yang ada kalimat zikir. Pakai sandal. Masuk mendahulukan kaki kiri. Tidak menghadap atau membelakangi kiblat. Tidak kelihatan orang lain. Membaca doa. Tidak ngobrol. Buang hajat di WC, bukan di jalan dan kebun serta sungai. Kecuali dua hal yang berat. Pertama toiletnya kadung membelakangi kiblat. Kedua ia takut dioperasi.

Kejadian di atas sangat menarik untuk dipelajari. Kadang omongan dan diskusi kita tentang Islam sudah mencapai langit, tapi aturan-aturan Islam yang remeh begini, banyak di antara umat Islam yang belum mengerti. Bukan hanya yang tergolong awam, acap yang sudah kuliah juga sama. Karena itu, kita sepatutnya salut kepada beberapa lembaga sekolah Islam bahwa di antara tes masuk yang diterapkan untuk calon guru dan karyawan baru adalah pemahaman rukun Islam, rukun iman, dan beberapa hal-hal penting lain tapi selama ini dianggap kecil.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here