Cermin diri #146: Kesialan

0
270
Foto diambil dari Erlangga Asvi

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Sial benar aku hari ini. Dalam tidurku di kamar depan dihantui mimpi buruk. Maka aku berpindah ke kamar tengah. Saat tarhiman, aku bergegas bangun dan wudu serta menuju masjid.

Bakda jamaah subuh dari masjid, aku bersin-bersin hingga tiba di rumah. Saking kerasnya sehingga mengagetkan tetangga. Aku pakai masker dilengkapi tisu basah dan berdoa.

Selain itu supaya alergiku minggat dan tubuh sehat, putraku mengajak main bulu tangkis. Raket kupukulkan cukup kuat. Kok yang terbuat dari gabus berbentuk setengah bulatan yang dilapisi kulit tipis pada bagian yang rata diberi bulu-bulu unggas yang dipasang berdiri melingkar sepanjang pinggirnya, terjatuh di atas genteng.

Kami ambil tangga. Anakku bertugas memeganginya, sedang aku naik ke teras. Kuterbelalak. Sebujur bangkai tikus dipenuhi belatung berdekatan dengan kok. Lalu kumasukkan kresek, dan kubuang di tempat sampah. Aroma bangkai hilang seketika.

Setelah itu aku bersepeda melewati seluruh gang. Nun jauh ada kerumunan disertai ratapan. Ternyata wargaku sedang menjemput keluarganya yang meninggal di rumah sakit. Aku berhenti untuk menghibur duka. Malahan disuruh mengumumkan pada pengeras suara sebuah tempat ibadah. Semoga berkah.

Selanjutnya kukayuh sepeda menuju kediaman adikku. Kuserahkan buku rekening ibuku. Karena lagi butuh duit untuk mantu. Sial mencari KTP belum ketemu. Oleh karena itu, aku segera kembali ke rumah.

Istriku mendekatku. Ia minta tolong memeriksa loteng. Sebab kayaknya ada lalat hijau beterbangan dan berbau busuk. Aku pun naik ke atas langit-langit. Rupanya ada bangkai tikus dikerubungi ulat kecil. Dengan sigap kukantongi dan kusemprot pembersih kuman.

Berikutnya aku mandi, sarapan dan ikut menyalatkan serta menguburkan jenazah. Masuk anginku kumat. Istriku ambil minyak kapak dan mengerok punggungku pakai koin. Tubuhku hangat.

Lantas aku ke sekolah setor nilai e-rapor. Sial ditolak operator. Aplikasiku eror. Jaringan internet juga lemah. Buru-buru kututup komputer di laboratorium. Lagian dari balik jendela, mataku menyaksikan mendung tebal.

Aku secepatnya naik motor. Di tengah jalan, ada pesan dari istri agar mampir Bank Jatim menarik tabungan untuk belanja. Tanpa basa-basi kumasuki bank. Sial mesin ATM belum diisi uang. Mukaku agak masam. Namun aku masih bersyukur, tabunganku tak berkurang.

Tak berselang lama ibu telpon. Beliau menyuruhku ke BRI, terus beli beras ketan di toko Cina. Kugesek ATM tiga kali. Nomor PIN salah. Sementara uang tunai tidak punya. Akibatnya tidak jadi belanja. Maka sebaiknya aku mending pulang saja.

Ketika kuberjalan ke parkiran, hujan turun. Kukenakan jas hujan. Sekitar seratus meter melaju, air yang turun dari langit itu reda. Namun jubah dari plastik itu tidak kulepas. Karena jauhnya masih tujuh kilometer. Barangkali di perjalanan nanti hujan lagi. Sial cuaca kian panas, sehingga tubuh basah oleh keringatku yang bercucuran.

Setiba di rumah, aku muhasabah. Mengapa ketidakmujuran ini kualami? Segala kemalangan rupanya akibat ulahku sendiri. Lantaran hari ini aku tidak berwudu sebelum tidur, malas merapikan seprei, meracuni tikus yang tak berdosa, tidak salam saat melewati orang-orang nongkrong, tak melepas sandal di kuburan, tak menyapa teman sekantor, tergesa-gesa, dan lupa bersedekah. Ya, benar. Aku ingat waktu keluar dari bank, ada seorang pengemis dan aku mengabaikannya.

Evaluasi diriku ambyar. Karena gawaiku bergetar. Ada pesan dari grup Wal Ashr. Tarjih berfatwa, Islam membolehkan menjelaskan sebab dan akibat. Dengan wajib meyakini bahwa semua peristiwa adalah takdir atau atas kekuasaan Allah. Manusia tidak akan pernah mengetahui sebelumnya. Adapun yang tidak diperbolehkan ialah syirkul asbab. Artinya menyandarkan sesuatu kepada sebab semata, bukan kepada kekuasaan Allah.

Akhirnya aku tersadar dan hati jembar. Peristiwa yang kualami bukan akibat sial sahaja, melainkan ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Sehingga aku tidak boleh mengeluh. Harus belajar memetik hikmah dari kemalangan. Pun tiada henti berikhtiar dalam kebaikan agar bahagia. Orang bahagia itu selalu menemukan keindahan pada sudut kehidupan.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here