Cermin diri #147: Janabah

0
113
Foto diambil dari lifestyle okezone

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Pada hari Jumat sekira jam 11.00 WIB, terdengar qiraat dari mesjid. Tujuannya agar mukallaf mandi, berpakaian yang terbaik, mengenakan wewangian, berangkat dengan tenang dan tidak terlambat jumatan.

Namun anak kami yang berusia sebelas tahun masih membaringkan diri di kasur. Ia pun asyik pegang gawai. Nenek lantas menghampirinya.

“Ayo lekas mandi janabah. Basahi seluruh badan dengan air suci. Nabi sangat menganjurkannya. Sebab Allah akan mengampuni dosa antara Jumat ini dengan Jumat berikutnya,” kata nenek dengan lembut.

“Sudah mbah,” jawab anak dengan sopan.

“Kapan? Kok bajunya belum ganti sejak tadi pagi,” sanggah nenek kurang percaya.

“Kemarin mbah, mandinya!” tukas si anak sambil tertawa cekikikan.

Kami dan nenek gemas melihat anak ini. Kemudian kami gelitik badannya. Ia kegelian. Lalu bangun dan berlari ke kulah mandi besar alias janabah.

Mandi disyariatkan berdasarkan Al-Maidah ayat 6 dan Al-Baqarah ayat 222. Hukumnya wajib jika keluar mani. Juga usai bersanggama, haid, nifas, masuk Islam, pingsan, gila dan mati.

Sementara disunahkan mandi bila hendak salat jumatan dan hari raya. Lagipula akan wukuf Arafah dan ihram. Pun setelah memandikan jenazah.

Tata cara mandi ala Rasulullah, pertama cuci kedua tangan. Kedua, cuci farji pakai tangan kiri. Ketiga, cuci tangan kiri dengan tanah atau sabun. Keempat, wudu. Kelima, keramas sambil mengucek sampai ke dasar kepala. Keenam, mandi sampai rata dari bagian kanan ke kiri. Ketujuh, cuci kaki.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here