Cermin diri #152: Bismillah

0
213
Foto diambil dari sekolahnesia

KLIKMU.CO*

Oleh: Mushlihin

Mengapa master seremoni dan pejabat seringkali memulai pembukaan acara resmi dengan ucapan bis·mil·lah atau basmalah, yang artinya dengan nama Allah? Contoh acara yang sering dibuka dengan bacaan basmalah yaitu seminar, lokakarya, diklat, peresmian, pengajian dan sebagainya.

Dalam Kamus Ilmu Alquran, yang dimaksud bismillah atau basmalah adalah “bismillahirrahmanirrahim.” Lafal ini ditemukan pada setiap awal surah. Kecuali surah At-Taubah. Kalimat tersebut juga ditulis Nabi Sulaiman. Kala beliau mengirim surat kepada ratu Bilqis. Sebagaimana dikisahkan dalam surah An-Naml (27):30.

Rasulullah juga bersabda, “Segala sesuatu yang bertujuan baik, tapi tidak diawali dengan bismillah, maka tidak berguna alias hilang manfaatnya.” Karena itu bacalah bismillah sebelum melakukan sesuatu pekerjaan mulia. Seperti mau makan, minum dan menyembelih hewan. Meski dalam mazhab Syafii tidak wajib mengucapkan basmalah saat menyembelih binatang, hanya sekadar anjuran. Sehingga boleh makan hewan sembelihan tanpa membaca basmalah.

Adapun yang sangat dianjurkan adalah membaca basmalah dan keseluruhan Al-Fatihah dalam salat. Pendek kata tak sah, kurang, buntung, dan tak sempurna salat bagi orang yang tidak membaca fatihatul kitab.

Masalah selanjutnya, apakah lirih ataukah keras saat membaca basmalah? Para ulama berbeda pendapat. Imam Syafii mengeraskannya. Ibnu Qayyim melirihkannya. Malahan Maliki tidak membaca sama sekali. Sebab basmalah pada awalnya tidak turun bersama ayat di Al-Fatihah.

Pembaca basmalah pada saat memulai salat bersumber hadis sahih dari Abu Hurairah dan Ummu Salamah. Sedang yang tidak membaca basmalah pada saat memulai salat mengacu hadis sahih dari Aisyah dan Anas. Cuma mayoritas ulama lebih memilih untuk tetap membaca basmalah dengan pelan atau nyaring.

Aku menjadi teringat pelatihan pustakawan di Jakarta 1999. Pemateri bercerita lucu. Di halte ada kiai dan pastor mau naik bis. Kiai berucap bismillah. Pastor komentar, “Kiai ini bis kota, bukan bismillah.”

Mushlihin, PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here