Cermin diri #153: Wali Nikah

0
257
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Ahad 12 Zulhijah 1441 bertepatan 2 Agustus 2020 pukul 10.00 aku menjadi wali nikah adik kandungku. Karena bapak telah meninggal 27 Rajab 1439 / 14 April 2018. Pas peringatan isra’ mi’roj Nabi Muhammad Saw. Sedang kakek dari pihak bapak terus ke atas juga telah tiada tahun 1965-an.

Kedudukan wali sangat penting. Berdasarkan hadis, “Tidaklah sah pernikahan tanpa wali yang dewasa.” Wali juga harus merdeka atau punya kekuasaan, berakal, balig dan muslim.

Wali nikah terbagi menjadi beberapa macam tingkatan. Urutan wali dari yang paling kuat hingga yang paling lemah yaitu pertama bapak. Kedua kakek dari pihak bapak ke atas. Ketiga saudara laki-laki kandung. Keempat saudara laki-laki sebapak. Kelima anak lelaki saudara lelaki kandung. Keenam anak lelaki saudara lelaki sebapak. Ketujuh saudara bapak sekandung. Kedelapan saudara bapak sebapak. Kesembilan anak lelaki dari paman sekandung. Kesepuluh anak lelaki dari paman sebapak. Kesebelas hakim.

Semula aku berniat menikahkan adikku. Karena aku merasa tidak kuasa, maka kugantikan pada pejabat yang diberi hak oleh penguasa untuk menjadi wali nikah. Sebab lainnya ialah tidak ada wali nasab terdekat. Rasulullah bersabda, “Seseorang sultan atau hakim alias penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” Warga menyebutnya naib. Alias penghulu urusan agama Islam.

Naib menjabat erat tangan kananku. Lalu aku diminta mengikuti kata-katanya. Setelah itu naib memegang erat tangan pengantin laki-laki dan melafalkan akad nikah. “Aku nikahkan engkau dengan putri bapak… dengan mahar…” Sementara pihak pengantin laki-laki menjawab, “Aku terima pernikahannya dengan diriku dengan mahar tersebut.” Walau dalam keadaan tangan gemetar dan hati berdebar. Dhredheg.

Para saksi mengesahkan dengan lantang dan serentak. Sekaligus membubuhkan tanda tangan di berita acara. Termasuk naib, kedua pengantin dan aku sendiri. Dilengkapi surat pernyataan dari wali dan mempelai tentang kesiapan akad nikah di rumah sesuai protokol kesehatan bermaterai 6000.

Fotografer menjepret gambar kami beberapa kali. Saat khotbah nikah, sighat akad nikah dan kala pengantin melingkar kan cincin emas sebagai maskawin.

Berikutnya diselenggarakan khotbah walimatul ursy oleh kiai. Di antara isinya bahwa nikah adalah sunah. Tujuannya mendapat keturunan, cinta kasih, terhindar dari zina dan penyakit kotor. Selain itu suami istri punya tugas dan tanggung jawab. Suami menafkahi dan istri menaati atau melayani. Suami memimpin keluarga dan istri memimpin rumah tangga. Andai suami memanggil istri, maka harus disambut, walaupun sedang masak.

Akhirnya para tamu undangan makan dan berswafoto. Terus menyampaikan doa kepada mempelai berdua. “Semoga Allah memberkahimu di waktu senang dan di waktu susah serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” Selaku wali nikah aku berterima kasih atas perhatiannya. Seraya berdoa, “Semoga Allah juga melimpahkan keberkahan kepadamu.

 

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here