Cermin Diri #155: Ngonthel The Raleigh

0
186
Foto diambil dari bp-Guide-id

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Di hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75 tetap kusempatkan bersepeda. Mengayuh sepeda adalah hobiku. Dalam Kamus Bahasa Jawa disebut ngonthel. Sehingga ketika ditanya dalam pelajaran Bahasa Inggris tentang kegemaran, maka kujawab “my hobby is cycling.” Meski cuma keliling seluruh gang di kampung yang penuh pernak-pernik Agustusan seperti bendera merah putih, umbul-umbul, lampu hias, dan trotoar pelangi serta toga di pekarangan.

Sepeda yang kunaiki semula yaitu Polygon. Karena dipakai anakku untuk lomba di sekolah, mengaji, dan jamaah ke masjid, aku harus mengalah. Sambil mencari cara agar tetap mancal.

Gayung bersambut. Adikku menyarankan supaya mereparasi sepeda The Raleigh Superior Quality. Warisan bapak yang dibeli tahun 1974-an. Mumpung ada bengkel yang siap memperbaiki dan mendesain ulang. Aku sangat riang.
Seluruh onderdil sepedaku diperiksa kelaikannya. Lalu dibongkar. Kerangka utama diampelas. Digosok sampai mulus. Karatnya hilang. Terus dicat coklat. Sementara yang aus diganti yang baru. Misalnya pedal, ban luar dalam, rantai, peleg, pasak, dan rem. Merk Pacific. Biayanya delapan ratusan.

Ibuku berkomentar, “Kok mahal! Mending dirongsokkan. Ditukar bawang. Lagian sepeda itu sudah jatuh tiga kali. Korbannya mulai luka ringan, berat, bahkan mati.” Sebaliknya istri, sepupu, dan mertua mendukungku. Alih-alih melestarikan barang kesayangan bapak. Bahkan warga yang menyaksikan berdecak kagum. Mereka bilang, alangkah antiknya! Wow, sepeda klasik. Apik. Sae. Bagus dan halus.

Selesai terima sanjungan, kulewati tanjakan. Butuh tenaga ekstra. Pedal kujejak ke bawah kuat-kuat. Eh malah patah. Beruntung ada guru prakarya ahli mekanik sedang ngopi. Tanpa kuminta, rela membantuku. Pasak yang putus diganti baru. Kala disetel, masih belum jitu. Rupanya gir atau bulatan logam pipih yang bergerigi tempat rantai berpaut untuk memutar roda pada sepedaku tidak sempurna.

Aku disuruh beli gir di toko Karanggeneng yang berjarak 10 km dari rumah. Matahari sedang terik -teriknya. Aku coba menghubungi bengkel terdekat. Disarankan beli di toko jalan raya Takerharjo. Berkat rahmat Allah, benda yang kucari tersedia di toko tetangga.

Berikutnya gir dipasang dengan cekatan. Sang montir menolak kubayar. Justru aku disuguhi kopi, teh dan wedang jahe. Usai diperbaiki, aku tak sabar ngonthel kembali. Manfaatnya sungguh terasa. Sehat jasmani rohani. Membakar lemak. Terhindar dari stres. Asam urat minggat. Sedekah senyum. Menebar salam. Menyambung silaturahmi. Menjenguk orang sakit. Dan banyak nikmat lainnya. Masya Allah luar biasa nyaman, aman dan menyenangkan.

Namun ada pula yang nyinyir. Bersepeda kok glinak-glinuk, gliyak-nggliyak. Berjalan kok perlahan-lahan. Persis orang tua. Daripada olahraga bersepeda lebih baik ke ladang mencabut tebon. Sisa tanaman jagung sehabis dipanen sebagai pakan ternak.

Tak berselang lama seorang sahabat menanggapi. Bersepeda sekarang merupakan kegemaran yang bergengsi. Karena kegiatan ini bertujuan olahraga. Cari keringat, bukan untuk bekerja seperti ketika bersepeda ke sawah. Maka gowes ini relatif bersifat rekreasi. Apalagi bila yang dipakai sepeda dengan spesifikasi tertentu maka semakin bergengsi. Walaupun dahulu jika ada guru yang ke sekolah bersepeda pancal maka akan dikatakan seperti Oemar Bakri. Jaman selalu berubah. Begitu pun pikiran dan pandangan orang tentang segala sesuatu. Pandemik Covid 19 yang belum tuntas saat ini berdampak pula pada tren kebiasaan dan kegemaran masyarakat. Silakan mengikuti tren dan arus perkembangan jaman tetapi tidak boleh terhanyut. Pungkas kata pertahankan yang lama yang masih baik, dan ikuti yang baru yang lebih baik.

Mushlihin, PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here