Cermin diri #156: Nazar Bersedekah Bila Juara

0
144
Foto diambil dari dokumentasi pribadi penulis

KLIKMU.CO-

Oleh: Mushlihin*

Ya Allah lindungi ananda kami dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Doa itu kami panjatkan saat menunggu buah hati yang belum pulang. Beberapa menit kemudian terdengar suara salam. Kami balas dengan salam yang lebih sempurna.

Ananda minta maaf karena telah membuat gelisah. Ia terlambat pulang lantaran ada gladi baca puisi. Dilombakan pas HUT RI ke 75. Ia mohon doa. Kalau menang juara pertama ia nazar. Janji pada diri sendiri hendak bersedekah. Ia akan mengadakan selamatan; mentraktir makan lima orang teman.

Esoknya ananda mengiba supaya dicetakkan puisi dari gawai. Satu kata merdeka. Lantas dengan penuh percaya diri naik ke panggung. Fotografer mengabadikannya. Lalu dikirim ke grup keluarga besar. Komentar silih berganti. Takjub. Tapi Ananda hanya memperoleh juara dua. Akibatnya nazar diurungkan.

Kami menyarankan agar JANGAN GAMPANG BERNAZAR. Dalam Tafsir al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan, kata nazar bermakna kebajikan yang tidak wajib, tetapi diwajibkan seseorang atas dirinya. Sebagian ulama menetapkan nazar sebagai hal yang mubah, dan bahkan makruh. Meskipun, apa yang dinazarkan merupakan sedekah.

Dalilnya adalah hadis dari Ibnu Umar yang diriwayatkan imam Ahmad, Bukhari dan Muslim. “Rasulullah SAW melarang bernazar seraya bersabda, ‘sesungguhnya nazar itu tidak dapat menolak sesuatu dan nazar itu hanya keluar dari orang yang bakhil’.

Shekh Yusuf Qaradhawi dalam Fikih Kontemporer pun menjelaskan, hikmah tidak disukainya nazar adalah dapat menjerumuskan manusia dengan prasangka bahwa nazarlah yang menolak takdir. Kemungkinan lainnya, mereka mengira, nazar dapat memastikan keberhasilan apa yang diinginkannya karena nazarnya itu. Sehingga Rasulullah menjelaskan, “Sesungguhnya nazar itu tidak dapat menolak sesuatu atau tidak dapat mendatangkan kebaikan.

Bahaya lain menyangkut nazar adalah adanya perasaan meminta balasan. Ia menggantungkan perbuatan amal baik dan ibadahnya dengan tujuan pribadinya. Jika tujuannya tidak berhasil, dia tidak akan bersedekah. Hal ini merupakan ketidakikhlasan seseorang dalam bertaqarrub kepada Allah. Lagian sebagai gambaran orang bakhil yang tidak mau mengeluarkan hartanya kecuali jika mendapatkan ganti yang lebih besar dari apa yang dia sudah bayarkan.

Alquran mencela orang-orang yang tidak melaksanakan nazarnya. “Dan, di antara mereka (orang-orang munafik) itu ada orang yang telah berikrar kepada Allah. Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling. Dan, mereka memang orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).’ (QS at-Taubah: 75).

Maka Islam memiliki aturan ketat untuk orang yang sudah bernazar. Jika tidak mampu melaksanakannya, orang tersebut wajib membayar kafarat sumpah.Yakni memberi makan sepuluh orang miskin. Sekira segantang makanan pokok. Bisa juga memberikan uang seharga makanan yang biasa dikonsumsi keluarga kepada orang miskin. Menurut imam Abu Hanifah, pilih yang mudah untuk dilakukan.

Secara gamblang disebutkan dalam Surat Al-Maidah ayat 89. Yang artinya : “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barangsiapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”

Ananda menyimak dengan seksama. InsyaAllah Senin 31 Agustus ia bertasyakur memberi makan temannya. Bertepatan ulang tahun yang ke 12.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here