Cermin diri #160: Emak Dibentak

0
174
Foto diambil dari Bank Muamalat - Wordpress

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Sabtu empat September dua ribu dua puluh jam sepuluh hati pilu. Di depan mataku, seorang anak membentak emak. Begini kronologis kejadiannya. Emak sedang duduk santai di teras rumahnya. Datanglah empat putri, dua cucu, dan tiga cicitnya. Mereka pun mengobrol sambil momong cicit yang menggemaskan. Bersamaan itulah menantu emak pulang. Beberapa menit kemudian pergi lagi. Emak menanyakan tujuan kepergiannya. Bukan jawaban santun yang emak terima, justru bentakan dari anak kandungnya. Karena emak dianggap cerewet. Turut campur urusan orang lain.

Padahal secara zahir pelaku telah bersyahadat, salat, zakat, puasa dan ke baitullah. Lagian ia khatam Alquran. Dengan demikian ia sudah membaca surat Al Isra ayat 23 beserta terjemahan. “hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan mengatakan kepada keduanya perkataan”uh”. Jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Hal ini menunjukkan belum bersinergi antara pikiran, perkataan dan perbuatan.

Oleh karena itu berlindunglah kepada Allah, agar tidak sampai membentak emak. Karena dibentak walaupun sekejap, sakitnya tidak kalah manakala melahirkan anak. Lagian jangankan terhadap emak yang mendidik kita di waktu kecil, pada orang yang minta bantuan alias pengemis saja, kita dilarang menghardiknya. Sebagaimana surat Ad-Duha ayat 10, “Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).”

Selanjutnya tirulah Uwais Al Qarni. Lelaki Yaman. Penggembala domba yang sering diejek karena belang. Tapi ia sangat sayang emak. Saat emaknya yang lumpuh ingin pergi haji, ia gendong. Setiba di kakbah, ia berdoa agar dosa emak diampuni dan masuk surga. Selesai haji, sakitnya sembuh. Lalu Uwais berhasrat ketemu Rasulullah. Namun beliau pas berperang. Ia hanya bertemu Aisyah. Ia pulang kampung dalam keadaan sedih. Ketika Rasulullah kembali, memerintahkan kepada sahabat agar minta doa pada Uwais. Sebab ia penghuni langit alias mulia di sisi Allah, meski berada di bumi. Saat wafat dirawat para malaikat. Lantaran ia sangat patuh terhadap emak.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here