Cermin Diri #168: Jejak Batas Lamongan Gresik

0
195
Foto para explorer diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Menjejak batas Kabupaten Lamongan Gresik sangat asyik. Jumat Kliwon jam lima bakda subuh tanggal 16 Oktober 2020, 48 pandu MAM 8 Takerharjo berkumpul di start. Upacara pembukaan berlangsung khidmat. Peserta diperiksa kelengkapan prokes. Diberi lembar kerja tabel pengamatan. Berisi daftar nama orang yang disapa, binatang yang dilihat, tempat keramat dan tumbuhan yang diamati. Lalu dibekali peta.

Saka yang trengginas disilakan berangkat sambil pamitan kepada bapak ibu guru terlebih dahulu. Berjalan sesuai arah peta menuju ladang KH. M Tsabit di Mbelik. Beliau pas mengairi tanaman semangka menggunakan diesel dari sumur bor miliknya. Dipagari seng dan setrum untuk menghalau tikus. Para peserta bergiliran menanya seputar perkembangan buah tersebut. Direkam, difoto dan divideo. Sungguh gayeng.

Sekitar pukul tujuh mereka hengkang. Melewati pematang. Tanah abang. Dan sampailah di kebun pak Nur Fain. Melepas dahaga. Menikmati sarapan. Lauk daging, cumi, telur dan sayur buah nangka muda. Lalapan timun yang baru dipetik. Dilengkapi kopi susu dan jajan pasar. Rasanya ambyar.

Tepat jam delapan peserta melanjutkan petualangan. Naik turun gundukan, keluar masuk hutan, dan melintasi jembatan serta menjinakkan ular. Peta diabaikan. Akibatnya kesasar jauh dari tugu perbatasan Kabupaten Lamongan Gresik. Mereka terdampar di SD, Balai Desa, masjid dan jalan raya.

Pembina khawatir. Untung ada sopir colt bak yang berbaik hati mengangkut mereka. Lagian warga rela meminjamkan motor. Untuk mencari peserta yang masih tersesat. Selain itu ia ikhlas menyuguhkan hidangan hasil bumi. Malahan ia bercerita telah tinggal di Tugu selama 22 tahun. Sejak putrinya yang kini kuliah di Bali lahir. Sebenarnya ia sudah rindu ketemu. Namun covid-19 memisahkannya. Saat itulah Saka yang kebingungan datang. Alhamdulillah semua terevakuasi.

Lantas kami mohon diri sekaligus berterima kasih. Terus peserta berbaris rapi mengamati tugu yang dipasang Top Dam V Brawijaya. Letaknya di antara puluhan hunian penduduk Sumurber Panceng Gresik, tapi di atas tanah Takerharjo Solokuro Lamongan. Hebatnya mereka akur dan terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Ber-KTP Gresik. Sedangkan pajak bumi bangunan secara taat di Lamongan.

Setelah peserta paham, sekira pukul sembilan penjelajahan diteruskan. Jalan makadam yang penuh aral ditaklukkan. Kecuali seorang siswa yang meringis kesakitan. Lantaran pasca pemulihan dari patah tulang. Pembina menyarankan agar istirahat. Siswa lain berempati menemani. Adapula yang bergegas ambil motor. Sehingga pertolongan pertama dapat dilakukan.

Resiko yang dihadapi, gagalnya rencana meneliti makam mbah Slukup. Aslinya bernama Suhuf. Berdasarkan cerita rakyat beliau keturunan wali. Pun para peserta berhasrat berebutan ke finish. Bersuci, selonjor, dan keleseh peseh. Bercakap-cakap. Menyeruput air mineral dan jus mangga. Bikin nagih. Mereka minta jejak petualang diulang. Walaupun melelahkan, banyak kecakapan hidup direngkuh.

Mushlihin, Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here