Cermin Diri #178: Entot

0
188

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Emak sungguh bijak dan sosok yang bersahaja. Sepetak sawah dan ladang yang dulunya ditanami padi, kini diganti pisang. Seperti ambon, ijo, raja, epek, susu, sobo, plingkar, emas dan sebagainya. Alasannya bermacam-macam. Berkurangnya tenaga beliau, bila diolah sendiri. Anak-anak bekerja di rantau dan adapula yang menjadi nelayan, peternak serta guru. Petani lain juga tidak bersedia paroan. Ditambah tanaman yang menghasilkan beras itu sering diserang hama.

Sementara pisang yang merupakan tanaman jenis Musa dan buahnya berdaging tersebut perawatannya agak ringan. Walau kondisinya ada yang busuk terjangkit wereng, dan roboh terkena topan. Tapi masih banyak yang bertunas, kuncup, montong, tua dan matang di pohon.

Pisang tua dijual. Sedangkan yang matang dibagikan ke tetangga dan kerabat. Mereka amat suka. Sebab konsumsi pisang membantu melancarkan buang air besar. Pun dapat dipakai pelicin menelan pil. Lebih dari itu ora usah tenaga dan biaya. Alias rasa bayar.

Upaya emak memberi gedang hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Tidak menghendaki balasan dan ucapan terima kasih. Apalagi untuk kepentingan politik. Sehingga meski emak enggak nandur pari, suplai makanan pokok tiada henti dari salah seorang menantu. Lagian pisang yang menurut pakar botani berasal muasal dari Asia Tenggara itu, malah tumbuh kembang. Masyarakat secara umum menjulukinya jantung pisang. Dapat diolah menjadi menu masakan yang istimewa. Misalnya kulub dan sayur lodeh. Dalam kamus bahasa Jawa dikenal sebagai ontong atau tuntut. Tapi emak beserta warga setempat menyebutnya en·tot/éntut.

Mushlihin, Ketua LPM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here