Cermin Diri #18: Pemuda Mempesona Pemimpin Idola Bangsa

0
127
Foto para santri dari perguruan Muhammadiyah Takerharjo Lamongan diambil dari dokumen pribadi denpeyi

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Hari Ahad pagi saya diundang menghadiri sekaligus memberi sambutan dan membuka musyawarah organisasi kepemudaan. Temanya membentuk kepemimpinan yang amanah dan bertanggung jawab serta berkemajuan. Rugi kalau tak datang sebab banyak manfaat yang saya dapatkan. Diantaranya bisa awet muda dan menyegarkan pikiran.

Selain itu saya sangat salut dan bangga pada mereka yang telah mempersiapkan acara dengan spektakuler. Ruangan bersih, pencahayaan memadai, panggung rapi, sirkulasi udara tercukupi, mamin terpenuhi, dan tamu dilayani dengan sepenuh hati serta terpisah antara pemuda dan pemudi alias memperhatikan gender.

Pengisi acara juga sangat berkompeten. Pembawa acara suaranya lantang dan mampu membangkitkan semangat peserta atau audien. Sang qori’ melantunkan ayat suci yang menggetarkan hati menambah keimanan. Pemimpin lagu Indonesia Raya bisa memandu dengan gegap gempita dan membahana ke penjuru ruangan. Pihak panitia menyampaikan sepatah kata namun kaya akan makna dan mendalam. Ketua organisasi menyampaikan sambutan apa adanya tanpa rekayasa untuk pencitraan alias tebar pesona seperti yang menjamur sekarang.

Padahal mereka dari keluarga pedagang, petani, buruh, dan yatim maupun dhuafa. Jadi masa mudanya digunakan sebagai tulang punggung untuk mengais rupiah. Tak ada kesempatan hura-hura dan berfoya-foya. Tapi yakinlah jerih payahnya tersebut akan berujung bahagia pada waktunya.

Pemuda sejati berkata, “inilah aku!, bukan yang berteriak, “inilah ayahku!. Mengutip kata Ali bin Abi Thalib yang wajahnya dimuliakan Allah.

Usai opening ceremony dilanjutkan musyawarah. Hujan interupsi dari sebagian peserta. Moderator menaggapinya dengan hikmat dan bijaksana. Tak ada lempar kursi atau menggedor meja. Menandakan rapat berjalan sesuai rencana. Tanpanya keberhasilan suatu kegiatan tak banyak orang yang memujinya. Sedang bilamana gagal semua anggota pasti mencemoohnya. Maka penting menyelesaikan urusan dengan musyawarah.

Keputusannya yaitu menghidupkan jiwa ilmu. Pepatah Palestina “Ilmu yang dipelajari kala muda laksana pahatan di atas batu”. Tetapi hanya beberapa gelintir yang setuju. Sehingga ada yang berteriak dengan keras di balik pintu. “Lakukanlah shalat jenazah untuk orang yang enggan belajar di masa mudanya karena ia tak pantas lagi dibilang hidup”. Sambil membacakan sebuah buku berjudul 131 pintu cahaya dari timur menggebu-gebu.

Lain daripada itu perlunya konsolidasi organisasi. Agar potensi tinggi yang dimiliki terfasilitasi dan bersinergi. Tidak gampang pupus diterjang badai. Tetap kokoh tak tertandingi. Walau godaan kesenangan duniawi bertubu-tubi.

Saat asyik mendiskusikan program, adzan duhur berkumandang. Musyawirin bergegas menuju masjid atau mushalla agar memperoleh barisan terdepan. Shalat didirikan dengan penuh kekhusyukan. Di tengah berkurangnya pemuda yang ikut sembahyang. Akibat lalai dan kemalasan serta alasan ketiduran. Asal anda tahu pemuda yang menyepelekan sujud, maka dipastikan lebih ceroboh di bidang lain.

Setelah itu mereka menikmati hidangan. Dan berhenti menyantap sebelum kenyang. Bustan al aql menyatakan ‘pemuda pintar makan untuk hidup, sedangkan pemuda dungu hidup untuk makan”. Mereka tak pernah berjam-jam nongkrong di warung atau restoran. Apalagi terbelit hutang sampai terjadi penipuan dan pencurian.

Selanjutnya sebagai puncak acara adalah pemilihan pimpinan periode berikutnya. Secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Terhindar dari kampanye hitam dan politik uang laiknya pilkada. Akhirnya benar-benar terwujud pimpinan yang sesuai asa bersama.

Demikian fakta pemuda mempesona. Semoga kelak menjadi pemimpin idola bangsa Indonesia. Selamat hari sumpah pemuda !

*Penulis tinggal di Takerharjo Solokuro, guru smp Karanggeneng Lamongan, pernah belajar di UIN dan Universitas Muhammadiyah Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here