Cermin Diri #180: Reuni ke Masjid Atas Gunung dan Laut

0
327

KLIKMU.C0

Oleh: Mushlihin*

Usai nyoblos Pilkada (9-12-2020), aku dan 13 teman alumni madrasah bereuni. Sehubungan usia kami jelang lima puluh tahun, maka destinasinya disepakati rihlah ke masjid yang berjarak 11 km. Allah pasti akan menolong orang yang zikir di masjid dari keganasan dan bencana. Itulah salah satu motivasi kami.

Tepat jam 09.00 kami berkumpul di madrasah. Tetapi ada masalah, yakni seksi transportasi berbelasungkawa. Sebab tetangganya meninggal dunia. Seketika panitia menghubungi mobil rental. Sial dangkal dan majal. Seluruh minibus dan angdes terpakai, kecuali mobil boks. Pengangkut barang, itupun tinggal yang terbuka.

Meski naik colt bak, seluruh penumpang setuju. Bahkan saat hendak melaju, hujan deras mengguyur. Kami tak kehabisan akal. Selain berdoa, kami juga secepatnya pasang terpal. Supaya pakaian tidak basah kuyup. Biarpun badan berasa panas. Gerah. Jantung berdebar. Kepala pusing. Bingung tak kenal arah.

Begitu tiba di masjid puncak gunung, Sendang Duwur, kiblatnya kayak bukan ke barat. Berhubung niat reuni sangat bulat, ditambah banyak benda purbakala, kami terpesona, terwonder-wonder bin takjub. Berdasarkan dokumen atau prasasti, masjid kuno yang terletak 4 km arah WBL ini didirikan tahun 1531. Diprakarsai Sunan Drajat dan Raden Nur Rahmat yang wafat 1522 & 1535 M. Lalu 1920 direkonstruksi jamaah. Ajaibnya gapura berbentuk tugu bentar, ukiran kayu jati, batu hitam menyerupai kepala kala dan makam sunan, masih terjaga apik. Lagian sumur giling 35 m dan paidon (kubangan air yang keluar dari sebongkah batu) belum pernah sat. Masyarakat percaya sumber tersebut berkhasiat menyembuhkan penyakit. Terdapat pula dua beduk yang dipukul jelang azan. Terbuat dari pohon otok alias sidaguri. Tanaman perdu dengan bunga berwarna kuning dan akarnya bisa dijadikan obat. Lantas kami mendirikan jamaah zuhur, zikir dan iktikaf. Kecuali teman yang sedang hadas besar.

Kemudian kami bergerak ke masjid ikon Desa Paciran yang buka 24 jam. Bangunannya barusan direhab besar-besaran. Netizen mengakui tempat ibadah ini elok, ramai, makmur, mewah, nuansa emas, asri, bersih, strategis dan menawan. Dibangun di atas laut, setelah diurug. Dilengkapi taman yang luas dan indah. Bekas bangunan lama. Pun berjajar perahu nelayan bersandar. Lagian di sekitarnya beraneka kuliner. Kami pilih soto ayam Lamongan untuk menghilangkan rasa lapar. Kami tidak berlebih-lebihan, jauh dari ketakutan kolesterol, sembari bersedekah jariah.

Selanjutnya kami melakukan perjalanan ke masjid Al Abror Kemantren. Kota baru. Luas 5 ha. Hasil reklamasi dan kompensasi industri. LIS. Pangkalan pantai terpadu yang melayani logistik migas terbesar di Indonesia. Apalagi ada makam ayah Sunan Giri. Maulana Ishak. Pendakwah asal Blambangan Banyuwangi. Konon ia dimusuhi Bajul Sengara sehingga menyelamatkan diri dan menetap di goa Tanjung Pakis bukit kapur Kemantren. Peninggalan beliau berupa sumur sepaku, sekencong, gambang bayang dan batu tumpang. Peziarah sangat ramai. Khususnya malam Jumat, haul, dan jelang ujian sekolah. Di rumah Allah ini kami membersihkan diri. Mendengarkan pembinaan. Berkomunikasi dan menjalin tali ukhuwah islamiah.

Akhirnya kami pulang dalam keadaan kenyang dan aman. Cuma kurang nyaman. Lantaran sepanjang gang kampung kami diteriaki oleh pendengki dengan bunyi “embek.” Seolah-olah kami bagaikan kambing etawa yang sedang diangkut boks terbuka.

Mushlihin, Alumni Perguruan Muhammadiyah Takerharjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here