Cermin Diri #183: Shalat Saat Kiamat

0
250

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Alhamdulillah kami dipercaya menyampaikan sambutan pada rapat wali murid dalam rangka penerimaan rapor semester satu. Lalu kami bacakan surat Ibrahim ayat 40. Bahwa orang tua hendaknya berdoa agar keturunannya tetap mendirikan salat.
رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Nyata adanya, azan zuhur telah tiba. Seorang guru sweeping alias menyisir seluruh ruang kelas. Ia menggiring mereka ke musala. Nampak ratusan siswa masuk rumah Allah secara berbondong-bondong. Sebagian besar murid salat sunah, bertasbih dengan memuji Tuhan, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang banyak, dan bertobat mohon ampun. Sesungguhnya Allah maha menerima tobat.

Namun ada satu siswa kelas VII yang bergeming. Ia tidak peduli dengan ajakan salat hingga hampir habis waktunya. Maka sang guru tidak bersikap kasar dan tiada henti berucap dengan lembut. “Ayo nak cepat salat!” Jawaban anak mencengangkan. “Sebentar pak, tunggu kiamat.”

Sang guru mengemukan dalil. “Tahukah kamu hari kiamat. Hari yang menggetarkan hati manusia karena kedahsyatan huru-haranya. Mereka menjadi seperti laron yang beterbangan dan berserakan kesana kemari. Mereka bingung tak tahu arah tujuan. Kayak gabah dienteri. Gunung-gunung bagaikan bulu yang diterbangkan angin. Ia dihambur-hamburkan. Adapun orang yang timbangan amal salehnya lebih berat daripada amal buruknya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan, dimasukkan surga. Sebaliknya orang yang timbangan amal buruknya lebih berat daripada amal salehnya, maka rumah tinggalnya adalah jahanam, neraka yang sangat panas.”

Bapak guru berharap bocah 12 tahun yang dikenal sebagai anak mbeling itu tersentuh hatinya. Lalu ia membulatkan tekad berlomba-lomba dalam kebaikan. Ia dirikan salat ontime. Jika lupa, ia salat ketika ingat. Bila ketiduran, ia salat kala terbangun. Andai ia tidak mampu berdiri, maka salat sambil duduk. Ia kadang bersila, duduk kayak tahiyat, bersandar atau di atas kursi. Umpama ia susah duduk, maka salat sembari berbaring. Misalkan sedang bepergian, salatnya dijamak atau diqasar. Pun manakala mengemudi, ia salat seraya berkendara. Bahkan ia berani menyarankan, “Jangan menunggu kiamat mendirikan salat.” Karena hari itu adalah hari pembalasan, bukan hari beramal.

Walhasil orang tua wajib mencontohkan dan membiasakan anak untuk menunaikan salat lima waktu. Selambat-lambatnya pada umur tujuh tahun. Lebih baik lagi salatnya dilakukan secara berjamaah di masjid, sekolah atau rumah. Setelah usianya sepuluh tahun harus dilakukan pendidikan salat secara disiplin dan intensif. Sebab salat akan mendidik dan melatih seseorang menjadi tenang menghadapi kesusahan. Ia tidak mudah sambat. Ia pun tidak bersikap kikir saat mendapat nikmat.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here