Cermin Diri #19: Terharu di Bedah Buku

0
102
Foto kegiatan bedah buku yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyayah Solokuro diambil dari dokumen pribadi Mushlihin

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Jumat hari yang berkah buatku. Karena mendapat undangan kehormatan mengikuti bedah buku. Maka kupercepat langkahku agar segera bisa bertemu penulis buku itu.

Saat datang aku disambut dengan riang. Oleh para gadis yang rupawan. Sebagai ketua panitia kegiatan. Sekitar jam sembilan. Waktu itu bersamaan dengan sambutan pimpinan organisasi putri tingkat kecamatan.

Kemudian pembicaraan dan diskusi mengenai isi buku atau yang dinamakan bedah buku dilaksanakan. Disaksikan seratus orang utusan. Sebagai pembicara yaitu Piet Hizbullah Khaidir, MA. Penulis buku “Allah is My Audience”. Buku yang laris manis di pasaran.

Penulis yang hafal Al Quran ini memaparkan sekilas misteri jodoh. Sewaktu ia tinggal di Jakarta mempunyai teman musisi saleh yang gondrong. Tapi suka tahajud dan ngaji. Dia bermain musik setelah tekun memahami ayat suci. Dia lalu diundang ke Jepang untuk konser tunggal. Yang hadir direncanakan 100 orang. Kenyataan hanya 10 yang datang. Panitia mohon maaf telah mengecewakan. Dia bilang, “saya musisi, bukan untuk penonton tapi untuk mendekatkan diri pada Allah”. Diluar dugaan sepuluh orang tersebut rupanya owner perusahaan besar. Ia pun dikontrak lima tahunan. Rezekinya melimpah dan tak lupa diinfaqkan.

Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat ini mengisahkan pula tentang kyai di Jember yang tak tamat MI. Beliau belajar secara otodidak. Hingga ahli dalam ilmu perbintangan. Dan menjadi rujukan dosen ITB. Resepnya ia mengajar dengan hati dan mampu diterima oleh hati serta membuat muridnya jatuh hati. Sebaliknya putranya yang bergelar tinggi, kesulitan disuruh mengganti dan mewakili lantaran kepalanya cuma berjubel teori. Tak pernah bersinggungan dengan para santri.

Selanjutnya Piet H. Khaidir lulusan S2 England ini juga memberikan tips literasi. Menurutnya menulis itu modalnya iqro. Diniati karena Allah agar orang baca lalu mengamalkan. Selingkung atau gaya kepenulisan bermacam-macam. Kunci menulis yaitu mulai. Bawalah pen dan tuangkan dalam kertas ide di kepala. Bila tak ada ide maka bacalah. Satu sampai tiga jam lamanya. Atas dasar itulah dia bisa melahirkan sebelas karya yang istimewa.

Program tersebut patut dihargai. Manfaatnya pasti banyak sekali. Diantaranya agar remaja putri lebih mandiri dan terus berprestasi. Tidak sekedar pemuas nafsu birahi.

Pilu membaca berita viral seks bebas dibalik seragam putih biru. Perzinaan seolah-olah bukan hal tabu. Selingkuh dianggap bumbu dan selingan yang penting keluarga tetap utuh. Posting buah dada pada medsos alias dunia maya tidak malu.

Anehnya perilaku yang menyimpang dari kebenaran dan tuntunan menjadi kebanggaan. Sementara yang menyeru berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran dituduh intoleran.

Alhamdulillah diakhir acara pengajar di Perguruan Tinggi ini memberiku sebuah buku. Yang telah diapresiasi oleh Haedar Nashir pimpinan pusat Muhammadiyah, Peneliti LIPI Dr. Yudi Latif, direktur eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate Dr. Sukardi Rinakit, dan budayawan Emha Ainun Nadjib.

Pun pula sang intelek yang sekarang mengabdi pada pesantren ternama di Lamongan, berkenan mampir ke rumahku walau hanya numpang wudlu. Sekaligus menyapa anak, istri, dan ibuku.

Berikutnya pergi jumatan bersamaku dan berpamitan sebab ditunggu tamu lain pukul satu. Sungguh aku terharu dan bertekad harus bisa seperti itu.

*Anggota PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here