Cermin Diri #22: “Ta’awwun Untuk Negeri”, Penolong Yatim Pelindung Janda

0
188
Foto perwakilan SMP Muhammadiyah 5 Lamongan saat memberi bantuan anak yatim diambil dari dokumen pribadi M5

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Dua wanita muslimah datang ke rumah. Dulunya mereka adalah teman sekelas saya. Salah seorang yatim piatu, yang kini jadi pengusaha palawija. Sedang satunya pernah berstatus janda dengan 1 putri karena suaminya meninggal dunia.

Maksud dan tujuan mereka sangat mulia. Yaitu mencari dana untuk membantu orang miskin, melindungi janda dan menyantuni serta menolong anak yatim. Khususnya keluarga alumni yang telah mendahuluinya.

Seolah mengingatkan saya supaya mengamalkan isi surat al maun yang saya baca dalam salat jamaah magrib di masjid al Jihad. Asal anda tahu orang yang mendustakan agama ialah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

Saya pun amat mendukungnya. Sambil menyodorkan beberapa lembar rupiah. Mereka langsung membukukan infaq itu sebagai pertanggungjawabannya. Agar tidak menimbulkan fitnah.

Saya juga menguatkan langkahnya. Supaya tidak kalah semangatnya dengan sekelompok anak muda penggembala. Yang ikhlas menyisihkan penghasilannya guna meringankan beban orang-orang susah. Terutama menggembirakan anak yang ditinggal mati ayah atau ibunya.

Betapa merana bila tak punya papa mama. Apalagi harus membiayai sakit adik-adiknya. Sementara uang tak dimilikinya. Saya terharu dengan seorang dokter dalam sinetron kun anta. Ia menanggung semua biaya pengobatan dan rela menjadi orang tua asuh pasiennya, yang orangtuanya telah tiada.

Marilah kita baca sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi Muhammad). Kita patut meneladani Halimah binti Abu Dzu’aib dari Bani Sa’ad bin Bakar. Ia sudi menyusui Nabi, disaat suami dan semua wanita menolaknya. Setelah tahu Rasulullah adalah anak yatim.

Tatkala beliau berumur 4 tahun dadanya dibelah oleh malaikat Jibril dan dikeluarkan hatinya. Lalu dicuci dalam baskom emas dengan air zam-zam. Kemudian ditata ke tempat semula. Anak kecil lainnya berlarian mencari ibunya. Dengan adanya peristiwa tersebut, Halimah khawatir terhadap keselamatannya. Sehingga dia mengembalikan pada Aminah.

Sampai umur 6 tahun beliau menempuh perjalanan sejauh 500 km. Berziarah ke makam ayahnya di Madinah selama satu bulan. Tatkala rombongan bersiap ke Makkah, ibunya meninggal dunia di Abwa.

Abdul Muthalib membawa Rasulullah ke Mekkah. Perasaan kasih sayang terhadap cucunya semakin kuat. Ia tidak ingin cucunya hidup sebatang kara. Bahkan ia lebih mengutamakan beliau daripada anak-anaknya sampai ajal tiba. Makanya kita patut mengaguminya yang telah mengasuh Muhammad dengan penuh kasih sayang.

Sesudah itu Abu Thalib yang mengasuh keponakannya hingga berusia 40 tahunan. Pamannya tetap memuliakan, mengamankan, dan membelanya. Lebih dari itu ia meminta hujan dengan wajah beliau. Sebagaimana syair yang dibacakannya. “Putih berseri meminta hujan dengan wajahnya. Penolong anak yatim dan pelindung wanita janda”. Oleh karena itu harus kita hargai jasanya dan dicontoh dalam tindakan nyata. Supaya kita tidak termasuk orang yang mendustakan agama.

*PRM Takerharjo Solokuro dan guru SMP Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here