Cermin Diri #23: Uswah Berbahasa Suai Kaidah

0
57

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Dulu saya pernah ikut seminar yang diselenggarakan kedutaan Australia di Surabaya. Poin penting yang tidak bisa lupa adalah cerita bahwa “ada seorang Indonesia yang ditertawakan saat kuliah, karena kesulitan menggunakan bahasa Inggris di depan teman mahasiswa dari berbagai negara. Sang profesor lalu bertanya pada seluruh mahasiswa yang tertawa, berapa bahasa yang anda kuasai? Mereka kompak menjawab, satu yakni bahasa Inggris. Nah mari kita dengarkan pengakuan mahasiswa yang kalian tertawakan. Ia bilang “meski bahasa Inggrisku kurang bagus tapi aku bisa bahasa Arab, Jawa dan Indonesia”. Oleh karena itu, kata profesor “jangan pernah mencela, atau menganggap kita lebih baik darinya”. Seisi kelas tak bersuara menyadari kelemahannya.

Bahasa Inggris memang merupakan bahasa utama dalam komunikasi antarbangsa dan pergaulan dunia. Karakteristik pembelajaran Bahasa Inggris yaitu belajar melalui contoh dan keteladanan, mengamati dengan langsung melakukan, bertanya dan mempertanyakan, langsung mencoba melakukannya sendiri, memperbaiki penalaran dengan menggunakan bahan ajar dari berbagai sumber lain, melakukan berbagai kegiatan dengan bahasa Inggris.

Fakta di beberapa sekolah masih menggunakan bahasa Indonesia dalam pembelajaran bahasa Inggris dan Arab. Bahkan sekarang kerapkali pembelajaran bahasa Jawa pun memakai bahasa Indonesia. Harapannya agar mudah dipahami siswa. Bukankah para rasul pun diberi kewenangan menyampaikan kebenaran sesuai bahasa kaumnya. Jadi Bahasa Indonesia masih menduduki posisi penting dan diakui keberadaannya.

Menurut saya keragaman bahasa yang baik, benar dan santun perlu dikembangkan. Sebab masing masing punya keunggulan. Salah satu SMP mengembangkan karakter berbahasa dengan mewajibkan warga sekolah berkomunikasi memakai Bahasa Indonesia setiap senin selasa. Bahasa Inggris tiap rabu kamis. Bahasa Arab tiap jumat sabtu. Lalu bahasa daerah setiap hari ahad.

Selain itu dalam rangka memperingati bulan bahasa diselenggarakan berbagai jenis lomba. Seperti puisi, cerpen, mendongeng, pidato, jula juli jawa, story telling, stand up comedy, kaligrafi, pop singer, rangking satu materi bahasa dan sastra. Sebagai puncaknya seluruh hasil lomba dipamerkan dan mendapat tanggapan luar biasa. Sehingga minimal mereka terbiasa berbahasa yang baik dan benar sesuai kaidah.

Namun sedih masih menyelimuti. Bila dicermati, gaya bicara anak remaja di media sosial masih menyakitkan hati. Termasuk pada orangtua sendiri. Sebagian besar juga mengungkapkan dan mengunggah nafsu birahi. Para pengguna medsos lainnya menjadi risih. Sampai ada yang antipati. Sedang ia tak menyadari kalau itu menjatuhkan harga diri. Padahal Allah telah berfirman: .. maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Surat Al-Isra’, ayat 23.

Ida S. Widayati dalam bukunya mendidik karakter dengan karakter menyebutkan “penggunaan kata-kata yang memburuk merupakan salah satu aspek tanda kehancuran suatu bangsa”. Maka perlu adanya keteladanan atau contoh bin uswah berbahasa yang santun dari orangtua dan media massa. Tidak sekedar menyuruh dan melarang. Tidak pula cuma menegur dan mengkritik serta berkomentar negatif. Data menunjukkan setiap anak menerima 460 kritik negatif dan 75 komentar positif.

Dengan demikian dibutuhkan uswah berbahasa suai kaidah. Atau kita harus gemar memberikan pencerahan lewat tekhnologi tepat guna. Supaya pemakai jasa media sosial tidak semakin resah. Melainkan memperoleh manfaat sebesar-besarnya. Senyampang Bahasa Indonesa bisa menunjukkan eksistensinya di kancah dunia.

*Tinggal di Takerharjo Solokuro dan guru smp Karanggeneng Lamongan. Alumni UIN dan UMM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here