Cermin Diri #24: Cara Aman Saat Penilaian Akhir Semester

0
160
Foto koran diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Sejak awal Desember ini telah dilaksanakan Penilaian Akhir Semester satu (PAS 1). Seluruh pihak baik sekolah maupun orangtua berusaha dan berdoa semoga sukses. Sampai nekad hutang atau menggadaikan barang.

Peraturannya peserta hadir di sekolah 15 menit sebelum ulangan di mulai. Jika datang terlambat hanya boleh mengikuti ujian setelah mendapat ijin dari kepala sekolah. Tanpa ada perpanjangan waktu. Secara tak langsung kita mengamalkan quran surat al ashr. Merugilah bagi orang yang yang tak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Peserta juga dilarang membawa catatan, alat bantu, dan hp dalam bentuk apapun ke dalam kelas. Tas dan isinya diletakkan di tempat penitipan. Tetapi ada saja yang masih menyembunyikannya. Sepandai-pandai menyimpan bangkai akhirnya tercium jua. Sebab sorot mata dan raut wajah serta gerak-geriknya pasti mencurigakan. Andaikan luput dari pantauan pengawas. Yakinlah tak akan pernah lolos dari cctv Allah lewat Raqib dan Atid. Malaikat pencatat amal baik dan buruk yang berada di pundak kita.

Kemudian peserta harus menyediakan sendiri alat tulis menulis yang diperlukan. Tak bagus menggantungkan alias merepotkan teman. Apalagi sampai merampasnya, diikuti kata-kata kasar dan mengembalikannya dengan cara dilempar. Sering penilain sikap dikesampingkan daripada pengetahuan dan ketrampilan. Mestinya ketiga ranah tadi harus selaras.

Selanjutnya larangan pula menanyakan soal, bekerja sama, memberi atau menerima bantuan dan memperlihatkan pekerjaan maupun menyontek. Bila perlu penjelasan dapat bertanya kepada pengawas. Jangan disalahpahami. Menanya sangat dianjurkan dalam pembelajaran. Bekerja sama dalam kebaikan dan taqwa wajib hukumnya. Memberi bantuan itupun sangat berguna, tapi di luar PAS. Karena siswa kini banyak yang pintar bersilat lidah.

Di samping itu siswa seyogyanya merapikan rambut, kuku, dan bersih pakaiannya. Kalau ditemukan pelanggaran segera diperingatkan. Walaupun pahit rasanya. Umpama dikecam dan dibinasakan.

Ketika selesai tinggalkan ruangan dengan tertib dan tenang. Buanglah sampah di tempatnya. Lalu salam ta’dhim pada pengawas. Mintalah restunya supaya nilainya sempurna.

Begitulah idealnya PAS yang sudah banyak menguras biaya, waktu dan tenaga. Sehingga peserta didik menjadi orang yang terdidik. Bernilai tinggi, terampil, dan berbudi pekerti.

Namun patut disesalkan, beberapa tata tertib di atas kurang berjalan. Sebagian peserta masih asyik bermain walau bel berbunyi pertanda dimulai ujian. Tatkala soal diterima, mereka kebingungan mengisi jawaban. Soal matematika pilihan ganda hanya 20, jawabannya diarsir hingga 25. Karena memang belum belajar semalam. Padahal buat soal itu tak gampang.

Akhirnya berbuat curang bagi yang punya keberanian. Entah buka catatan, hp, dan melihat pekerjaan peserta lain. Sementara yang penakut, hanya bisa pasrah berapapun hasilnya. Bahkan rela dihukum apa saja. Yang penting bukan melengkapi lembar jawaban. Ditambah lagi kadang tak ada koreksi yang valid atau yang dikenal “ngaji”. Singkatan dari ngarang biji. Ingat-ingat celakalah bagi orang yang curang.

*Tinggal di Takerharjo Solokuro dan guru SMP Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here