Cermin Diri #25: Sikap Pemuda Sukses Sebagai Pahlawan

0
675
Foto Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya H.M.Arif an yang juga Caleg DPRD Jawa Timur nomor urut 4 Dapil I (Surabaya) diambil oleh rohim

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Pemuda yang memiliki kewaspadaan bersikap akan memperoleh kesuksesan hidup. Di samping mau berjuang dan berkarya.

Dalam Syarah Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya: “Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di saat tiada lagi naungan kecuali milik Allah. Dua diantaranya yaitu pemuda yang senantiasa beribadah dan pemuda yang diajak wanita cantik serong (zina) lalu ditolaknya seraya berkata, “Aku takut siksaan Allah”.

Selain itu pemuda yang mau sukses di segala bidang, ingin tercapai cita-citanya, pasti akan sulit kalau tanpa disertai perjuangan yang tinggi dan kerelaan berkorban. Misalnya yang dilakukan Mr. Kasman Singodimejo. Sehingga dikukuhkan pada 8 Nopember 2018 berdasarkan Keppres nomor 123/Tk/2018 sebagai pahlawan nasional. Beliau adalah tokoh yang aktif bergerak untuk tanah air. Pemimpin pemuda Islam yang ikut mencetuskan Sumpah Pemuda.

Kemudian di era revolusi industri yang serba tekhnologi canggih, menuntut pemuda pemudi selaku pemimpin bangsa mendatang untuk terus berkarya. Hanum Rais merupakan contoh zaman now, seperti dimuat di Jawa Pos. Seorang sineas muda dalam dunia dakwah modern. Lewat sosial media, buku, dan film. Sasarannya adalah generasi muda Islam yang suka nongkrong di cafe, bioskop, di tempat-tempat yang menawarkan hiburan, jauh dari masjid, majelis taklim atau forum kajian dakwah.

Tentu siapapun bebas berkarya. Asal tidak menganggap bahwa saya lebih baik dari anda. Lebih dari itu bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebaliknya tidak sedikit para pemuda di era digital salah kaprah. Banyak yang belum mampu menggunakan seluruh akun jejaring sosial untuk berbagi kebaikan dan menambah wawasan. Melainkan hanya untuk melacurkan diri. Betah membaca situs porno tanpa risih.

Lagipula perkembangan tekhnologi jangan tambah malas ibadah. Karena asyik internetan sampai larut malam, bangunnya kesiangan. Subuh dilalaikan. Ngantuk di sekolahan atau di tempat kerjaan. Hukama berkata, “Malas beribadah bagi semua orang adalah jelek, tetapi lebih jelek lagi kalau orang berilmu dan pelajar yang malas”.

Dampak negatif lainnya masjid sepi. Sementara warung free wifi ramai sekali. Mushalla dekat balai desa pun beralih fungsi. Sebagai lokasi aman dan tersembunyi. Untuk ngobrol dan menyendiri. Bukan sujud dan mengaji.

Bahkan budaya silaturrahmi saat idul fitri dan takziyah bila saudara meninggal dunia cukup melalui sosial media. Hal tersebut jika terpaksa masih dimaklumi.

Jadi menghadapi perkembangan era revolusi industri perlu kewaspadaan dan hati-hati. Manfaatkan kemajuan tekhnologi untuk meningkatkan kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita menjadi budak dan mengkufuri nikmat illahi. Akibatnya tak bahagia di kemudiaan hari.

*Tinggal di Takerharjo Solokuro dan guru di smp Karanggeneng Lamongan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here