Cermin Diri #27: Gairahkan Menenggang Perbedaan

0
313
Foto sebuah keluarga dengan teman dari beda negara, bahasa, budaya dan keyakinan diambil oleh Mushlihin

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Sewaktu di Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah aku sering diikutkan lomba cerdas cermat tingkat kecamatan maupun kabupaten. Materinya adalah Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Salah satu butirnya yaitu kita harus saling toleransi. Bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Karena tidak seorangpun, kecuali Nabi Muhammad, yang pendapatnya terbebas dari kesalahan.

Di Perguruan Tinggi aku berkumpul dengan ribuan mahasiswa dari penjuru Indonesia. Sekaligus harus kost di rumah penduduk sekitar kampus. Kebetulan kamarku bersebelahan dengan orang non muslim jurusan arsitek dari universitas lain. Tapi tak masalah bagiku. Firman Allah:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Surat Al-Kafirun, ayat 6).

Kami berteman baik dalam hal kemasyarakatan. Tiap pagi ia ke kamarku. Ia senang mendengarkan radioku. Siaran favoritnya ialah ceramah dai sejuta umat KH Zanudin MZ dan sandiwara. Kadang membaca tugas kuliahku Bahasa Arab. Ia heran kok ada tulisan asing. Dikira tidak berguna. Karena ketidakpahamannya, kertas tersebut dicorat-coret. Akupun hanya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu membuat tugas baru. Tak perlu marah, apalagi sampai mengumpat.

Selain itu pada bulan Ramadan ia ikut berbuka dan sahur. Karena warung makan banyak yang tutup siang hari. Sekaligus sebagai wujud toleransi antar agama. Tidak seperti sekarang yang secara terang benderang membuka restoran. Anehnya pelanggan kebanyakan orang yang ber KTP Islam. Tanpa sungkan makan minum siang-siang disaksikan kaum beriman. Kecuali ada halangan dan keriganan. Seperti sakit, bepergian dan menstruasi atau datang bulan.

Adakalanya aku ditraktir makan di kamarnya. Bagaimana hukum orang memakan buatan non muslim?. Menurut pendapat tarjih disilakan, asal bukan makanan haram.

Pernah pula aku diajak bertamu ke video rental. Dengan lantang ia mengucap salam pada tuan rumah. Aku mati kutu dibuatnya. Semestinya aku yang mengatakannya duluan. Berdasarkan pengetahuanku bila non muslim salam pada kita, maka cukup jawab alaikum. Sebaliknya bila sesama muslim, jawablah dengan yang lebih baik. Minimal sepadan dengan yang memberi salam.

Kini aku tinggal di RT perlente. RT 01 RW 04. Rukun Tetangga terkecil di desaku. Hanya terdiri 54 kepala rumah tangga dari 1500 Kepala Keluarga seluruhnya. Tetangga menurut Islam adalah penghuni rumah di samping rumah anda yang jumlahnya dari setiap sisi sebanyak 40 rumah.

Biarpun sedikit, namun warganya berbeda-beda. Baik organisasi kemasyarakatan, politik, pekerjaan, status, penghasilan, pendidikan maupun budaya.

Kebhinekaan tersebut membawa berkah. Sebagaimana sabda Rasulullah ” Perbedaan di antara umatku merupakan rahmat”. Pendek kata keberagaman justru memperoleh kejayaan. Asal mampu menjalin ukhuwah dalam perbedaan dan disikapi dengan benar.

Di antara keberkahan pertama adalah warganya suka beribadah, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tempat ibadahnya ada tiga. Ustadz dan ustadzah berlimpah serta menang lomba ngaji antar desa. Warga yang bergelar haji dan pergi umrah ke Makkah pun banyak jumlahnya. Saat Ramadan pasti menggelar ceramah agama sekaligus buka bersama. Kemudian kebersihan lingkungan terus dijaga. Sehingga tiga tahun ini selalu juara. Kini wilayah kami dipercaya mengikuti lomba green and clean tingkat kabupaten/kota. Mereka siap swadaya menata lingkungan sekitar dengan beraneka bunga, toga, dan tanaman produktif lainnya.

Kedua, rasa kemanusian warga cukup adil dan beradab. Tanpa pilih kasih dalam perlakuan dan pelayanan prima. Bahkan budi pekerti mulia, akhlaq dan nilai luhur serta sopan santun kepada tetangga begitu terasa. Sehingga tercipta rasa aman dan sentosa. Nabi Muhammad bersabda, “Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman. “Siapa wahai Nabi ?” Tanya sahabat beliau. Nabi SAW. menjawab, “Yang tidak merasa aman tetangganya dari gangguannya”.

Ketiga, persatuan menjadi ikonnya. Meskipun berbeda tapi tetap satu jua (bhineka tunggal ika). Misalnya orang Muhammadiyah mengadakan acara, maka orang NU berbondong-bondong mendatanginya. Demikian pula sebaliknya. Bahkan pemudanya bersatu bertanding futsal dan parade drumband menggalang dana kemanusian hingga tujuh belasan juta rupiah serta membangun mahligai rumah tangga.

Keempat, musyawarah dilakukan dengan intensif dan rutin. Sekecil apapun permasalahan atau peristiwanya. Terlebih dalam bulan Agustus hampir tiap malam berdiskusi dan workshop sederhana. Tetangga seyogyanya saling menyapa, bercakap-cakap dan bersahabat serta saling mengunjungi rumahnya.

Kelima, keadilan sosial ditegakkan demi kerukunan tetangga. Tak ada yang sampai hati tidur kenyang sementara tetangganya lapar perutnya. Makanya sering mengadakan bakar ikan dan jagung sumbangan para dermawan kaya raya. Atau bikin masakan tradisional yang kuahnya diperbanyak agar bisa dinikmati semua warga. Tak cuma itu, daging kurban saat idul adha dibagi rata tanpa memandang miskin atau kaya, dermawan atau bakhil kawakan.

Lain daripada itu, RT 01 RW 04 yang memiliki semboyan BERSIH (Beriman Sehat Indah dan Harmonis) orangnya saling melengkapi. Ada yang getol dalam pemikiran. Ada yang memberikan tenaga. Adapula yang merelakan barangnya dipakai secara cuma-cuma. Juga ada yang mengasih dukungan dan doa. Ditambah ketua rukun tetangga sangat rajin dan giat bekerja. Walau hanya lulusan MA. Sementara anggotanya rata-rata sarjana.

Semoga kita tergolong orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir lantaran memuliakan tetangga. Termasuk saling tenggang rasa atau toleransi. Meskipun berbeda dalam segala aspeknya. Keberagaman itu rahmat. Seperti judul buku yang ditulis M Quraish Shihab. Bila kita bersikap toleran. Namun dunia seakan kiamat jika penduduknya intoleran. Jadi mulai sekarang gairahkan menenggang pandangan yang ada perbedaan. Jangan sok suci, terbersih, paling benar dan saling mengkafirkan!

*PRM Takerharjo Solokuro yang mengajar di smp Karanggeneng Lamongan. Alumni uin dan umm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here