Cermin Diri #36: Kenikmatan Bepergian

0
182
Ilustrasi diambil dari klikmu.co

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Kapan hari iparku pulang. Menawariku bepergian ke Semarang. Bertepatan libur hari nasional keagamaan. Setelah kurundingkan dengan istri dan anak kesayangan, kami tak keberatan. Bahkan merasa kegirangan. Sesekali jalan-jalan. Tidak sibuk dengan pekerjaan.

Saat tiba hari keberangkatan, langit mendung. Pikiranku kalut dan bingung. Emosiku tak terbendung. Manakala menyaksikan peserta didikku dikerjai hingga jatuh bangun, kulayangkan pukulanku pada pipi pelaku yang cekung.

Aku sangat menyesal alias getun. Makanya aku sujud dan minta ampun. Hujan lebat pun turun. Walau pakai mantel, air mengguyur tubuhku dan membanjiri tempat umum. Tapi aku masih beruntung. Tidak memogokkan motorku sedikitpun.

Kemudian saudara perempuanku telpon. Bahwa akan menjemputku menggunakan mobil warna keputihan. Dikemudikan suaminya dan ditemani anaknya yang berusia 7 tahun.

Kami berkemas-kemas. Memasukkan barang ke dalam tas. Ada makanan khas. Adapula pakaian ganti, uang dan obat perut mulas.

Lalu mohon restu pada orangtua dan sanak saudara. Mereka melepas kami dengan doa yang artinya:

“Allah Maha Besar (3x). Maha Suci Dzat yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada Rabb kami. Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon ketaatan dan terhindar dari maksiat dalam perjalanan ini, kami mohon petunjuk perbuatan yang membuat Engkau ridha. Ya Allah! mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkaulah teman dalam bepergian dan pengganti(ku) yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari beban berat dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga.”

Apabila kembali pulang, baca doa di atas dan ditambahkan: “Kami kembali dengan baik, sambil bertaubat, tetap rajin beribadah dan selalu memuji kepada Rabb kami.”

Sekitar asar kami melewati kecamatan Babat. Di halte telah menunggu seorang kerabat. Berbaju gamis, kopiah putih, celana cingkrang dan berjanggut lebat. Suka membaca buku maupun kitab. Gemar berucap salam pada muslim dan muslimat.

Mengapa anda memelihara jenggot? “tanyaku berkelakar”. Jenggotlah yang justeru memeliharaku dari maksiat, “jawabnya singkat”. Maksudnya karena berjenggot aku tidak mungkin berbuat dosa dan permusuhan serta berprilaku bejat. Betul juga pernyataannya dan aku sepakat.

Azan magrib kami tiba di masjid Bojonegoro yang bentuknya laiknya hunian besar. Mendirikan salat jamak qasar. Aku langsung teringat komunitas KBM (Kita Belajar Menulis) yang popular. Sekaligus ingin mampir ke kantor Jawa Pos Radar. Namun sudah buyar.

Sampai di Blora perut kami lapar. Diguncang kendaraan layaknya naik cikar. Karena jalanan berlubang cukup lebar. Padahal pajak terus kami bayar. Sehingga anakku muntah dan isi perutnya keluar. Usai menyantap bakso, dadar dan es teh segar. Wahai pemerintah bangunlah infrastruktur atau prasarana negara, jangan cuma komentar apalagi menghindar.

Jam dua dinihari rombongan berhenti di Weleri. Disambut usahawan asal Lamongan asli. Kakak dari saudara perempuanku yang berprofesi sebagai pegawai negeri. Disuguhi hidangan lezat dan bergizi.

Lantas diajak bermalam di graha yang asri dan berasitektur tinggi. Dilengkapi perpustakaan pribadi. Aku dihadiahi sebuah buku islami. Kami merasa tamu yang dimuliakan dan dihormati.

Pagi hari aku ditemani mengelilingi stasiun kereta api. Yang sangat asing bagi kami. Sungguh pemandangan yang memikat hati. Kumanfaatkan berbagi dan menggali informasi. Khususnya rahasia sukses selama ini.

Katanya berawal dari nol ia menjalankan bisnis kulinernya. Dari pedagang kaki lima di pinggir jalan raya. Menunya ayam bakar, burung dara, pecel bebek, kakap dan lele serta nila. Juga sate dan soto ayam yang maknyus rasanya. Karena satenya berasal dari ayam kampung betina. Sedangkan ayam jantan merupakan resep dari sotonya.

Kini warungnya berkembang pesat menjadi rumah makan ternama. Sehari bisa terjual ratusan porsi dari pelanggannya. Untungnya tiada tara. Bisa pergi haji dan umrah ke Makkah. Pun membangun rumah mewah dan membeli beberapa hektare tanah. Tak lupa menghidupkan kajian agama di masjid atau warungnya cuma-cuma. Seperti Bulughul Maram dan Fiqih Sunnah.

Di samping itu ia sangat menyayangi binatang piaraan puluhan aneka burung kesukaannya. Siulannya merdu dan mempesona. Sering mendapat juara setiap lomba.

Bahkan sudi memberi makan anjing penjaga walet milik tetangga. Saban hari menunggu di depan pagar rumah. Mengharap belas kasihnya. Kadang dititipi bekal untuk menyantuni kaum duafa atau ekonomi lemah. Bila terkena air liurnya ia cuci tujuh kali dan salah satunya dicampuri tanah.

Selain itu ia menyampaikan kendala utama berwiraswasta. Bahan baku mahal. Sementara pembeli maunya murah harganya. Saingannya semakin mengintainya. Tetapi ia sadar, rezeki adalah hak semua manusia.

Menjelang duhur kami anjangsana ke Tegal Jawa Tengah. Menghadiri undangan pesta pernikahan saudagar kaya. Kami bisa bercengkerama dengan para perantau sukses dalam usaha yang digelutinya. Bermula dari 4 pedagang Banglades (Bangsa Lamongan Desa).Lantas diwariskan anak cucunya. Dalam rangka menjalin ukhuwah, sekarang mereka rutin mengadakan acara keluarga. Kami berpisah bakda salat jamaah pada musalla megah di sebelah sahibu dakwah.

Selanjutnya kami dipaksa singgah di kediaman pengusaha lainnya. Paman dari kakak iparku yang kedua. Perabotannya berkelas dan istimewa. Kami bisa mandi dan beristirahat sepuasnya. Menikmati tv parabola. Secara langsung dari baitullah. Sungguh menentramkan jiwa.

Kucoba mengorek rahasianya. Bahwa ia sudah tinggal sejak 1994. Mulanya kerja sebagai tukang becak dan kontrak dari seorang wanita sebatangkara. Asal mau merawat sebagaimana mestinya, si nenek bersedia menjual pekarangannya.

Atas karunia Allah, restorannya ramai bagaikan orang pesta. Letaknya strategis di jantung kota. Berdampingan dengan salah satu kedai terkenal. Kami ditraktir dan dijamu bagaikan raja.

Di sisi lain ia dipercaya menjadi ketua Rukun Tetangga. Kepemimpinannya membuahkan penghargaan dari walikota. Menggerakkan warga membersihkan lingkungannya.

Sekaligus imam salat jamaah. Pada sebuah masjid al-Istiqamah. Di dekat singgasana hasil jerih payah bersama keluarga. Sayangnya ia mundur sebab istrinya tak bersedia sebagai ketua PKK.

Esoknya kami berpamitan. Dibekali aneka jajanan, pakaian, mainan dan uang. Kami bergumam, cuma sedikit ole-ole yang kami bawakan. Namun malahan dikasih balikan yang lebih dari sepadan. Benar-benar dermawan. Terima kasih kuucapkan. Memang filosofinya setelah kita terima barang, seharusnya mengasihinya kembali lebih dari pendapatan.

Adapun jalan yang kutempuh lebih cepat dan nyaman. Tol Tegal hingga Jombang. Hemat waktu 4 jam. Sampai di Ploso kami jumatan. Sesudah itu disajikan kotak makan. Takmirnya kekinian. Sebabnya jamaah banyak yang datang.

Tepat jam tiga rehat di Sekaran. Salat asar dan membersihkan badan. Senyampang mendistribusikan barang dan kado titipan. Selanjutnya kembali ke rumah dengan riang. Alhamdulillah semua rencana dapat ditunaikan.

Betapa banyak kenikmatan yang kuperoleh dari bepergian pada usahawan bin bos kuliner tersohor. Tetap menjalin persaudaraan, biarpun hidupnya glamour. Rajin ibadah, walaupun jadi mandor. Tak pernah congkak disanjung selaku saudagar pelopor dan inspirator.

*PRM Takerharjo Solokuro. Guru SMP Karanggeneng Lamongan. Alumni UIN dan UMM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here