Cermin Diri #38: Nasibmu Bukuku

0
416
Foto ilustrasi diambil dari dokumen pribadi Mushlihin

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

Slogan minimal satu buku sebelum mati telah melecutku. Berbekal kemauan dan kesungguhan, akhirnya terwujud. Dua puluh delapan Februari kemarin.

Sejak bukuku terbit, aku berjibaku agar laku. Berbagai upaya kujalani. Seperti kerjasama dengan penjual online. Yang merupakan teman sekelas dan tetanggaku.

Selain itu dengan sedikit malu, kupromosikan lewat grup. Sanjungan hangat membanjiri gawaiku. Seorang teman pesan melalui istriku. Berulang kali menanyakannya. Sehingga kuberi cuma-cuma. Ala-ala hadiah. Biarpun siap membeli berapapun harganya.

Kemudian aku ikutkan pameran jambore sekolah model di LPMP Jawa Timur. Salah satu pengunjung tertarik membelinya. Sayang ditolak penjaga. Yang tak lain kepala sekolahku. Alasannya nunggu pak menteri Muhadjir dan bu Puan serta gubernur Khofifah singgah di stand SMPN Karanggeneng. Ternyata para beliaunya terburu-buru. Tak ada waktu berkeliling sebagaimana dulu. Sialnya pembeli tadi juga tak kembali. Sabar! Mungkin belum rezeki. Tapi tetap bangga, karena sekolahku juara tiga.

Lantas kucoba bersilaturrahmi. Sambil berdiskusi dengan penulis buku motivasi. Dia sangat mengapresiasi. Dan siap mendampingi bedah buku ke depannya nanti. Baik di dalam maupun luar negeri. Aku semakin grogi.

Tiba-tiba terbersit ide. Bagaimana seandainya numpang tenar pada Festival Anak se-kecamatan Solokuro di PAUD Percontohan Aisyiyah Takerharjo? Almamaterku 40 tahun silam. Sekaligus rasa terima kasihku selaku alumni 1980.

Maka kutemui kepalanya. Ia setuju. Setelah bincang-bincang agak lama. Deal. Meniru sebuah acara televisi.

Selanjutnya kuserahkan sebelas ekslempar. Masih terbungkus rapi. Lantas aku mohon diri menjalani tugas sebagai pegawai negeri.

Dua jam berikutnya, aku hubungi panitia. Jika pembukaan dimulai agar dikabari. “Waduh sudah pembacaan Al Quran pak!” balasnya.

Secepatnya aku izin dari pimpinan. “Silakan. Kalau selesai segera kembali.” sarannya.

“Siap kerjakan.” Jawabku.

Kupacu motorku. Tepat pengajian iftitah oleh kiai aku tiba. Terus kusaksikan beberapa sambutan dari ormas cabang dan daerah.

Foto peluncuran buku di PAUD Percontohan Takerharjo diambil dari dokumen Mushlihin

Selepas itu mendengarkan ceramah politik. Calon DPD nomor urut 41. Yang juga penulis buku dan sering dimuat di media massa. Sehingga yang bersangkutan tidak bagi-bagi uang. Melainkan buku keagamaan. Kumanfaatkan bertukar karya.

Selanjutnya di luar targetku, masyaallah aku dipanggil oleh MC supaya maju ke panggung utama. Seraya launching alias peluncuran buku “Guru yang Dirindu” dan menyerahkan kepada tamu penting. Di antaranya ada pejabat propinsi, kabupaten, kecamatan dan kepala desa serta polisi. Disaksikan sekitar 1400 hadirin.

Hati kecilku menjelajah. Apakah kemulian ini akibat bacaan setelah salam dalam setiap salat fardu? Yang artinya sebagai berikut:

“Ya Allah, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau halangi. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya untuk melindungi dari siksa-Mu.”

Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Oh, nasibmu bukuku.

*PRM Takerharjo Solokuro. Guru SMP Karanggeneg Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here