Cermin Diri #39: Panjat Sosial ke Imigrasi

0
366
Foto suasana antri di imigrasi diambil oleh mushlihin

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Calon doktor dari International Islamic University Malaysia mengirim pesan. Yakni “Assalamualaikum. Kami sudah berhasil mendirikan KATAM (Komunitas Takerharjo Muhammadiyah). Ketuanya adalah Bapak Masram dan Bapak M Suwandi.

Sekarang kami sedang bikin seragam resmi dan menggalang dana. Ada kajian rutin juga setiap bulan. Sebentar lagi kami adakan peresmian KATAM.

Kami akan mengundang tiga tokoh untuk meresmikan KATAM ini. Di samping juga warga PCIM Malaysia untuk menyaksikan. Tiga tokoh itu adalah: Pertama. Assoc Prof Dr Sonny Zulhuda. Kedua. KH Muhammad Tsabit Hamdan. Ketiga. Ustadz Mushlihin.

Insya Allah peresmian Minggu, 21 April 2019 di Kuala Lumpur. Mohon siap. Kalau belum punya paspor, silakan cepat buat.”

“Amin dan insya Allah” jawabku singkat. Karena warta bahagia tersebut sulit kuungkapkan dengan kata-kata.

Kusampaikan pula pada mahaguru. Beliau menyarankan, “kita tunggu kesungguhan dan perkembangannya. Indikasinya apabila mereka menghubungi untuk kedua kalinya”.

Selang tujuh hari Magister UMS kirim pesan lagi. “Malam ini KATAM kumpulan. Tolong Pak Mushlihin bikin paspor”.

Tiga hari kemudian ada ralat. “Peresmian KATAM Insya Allah ditunda. Sebab masih buat seragam dan siapkan program dan dana. Tapi sebaiknya bapak siap-siap paspor.”

Antara haru dan bimbang segera kuputuskan. Usai subuh kutemui agen paspor yang merupakan kawan seperjuangan. Dia menjelaskan biaya dan sejumlah persyaratan serta memberiku peluang tanya agen lain sebagai perbandingan.

Bakda asar secara kebetulan aku bincang-bincang dengan TKI yang pulang dari perantauan. Tiba-tiba hadir pula karyawan biro jasa umrah.

‘Abi, kapan antar jamaah buat paspor untuk umrah?” Tanyaku sambil lesehan. “Jumat antar suami istri buat paspor ke imigrasi.” jawabnya. “Kalau ikut silakan!” tambahnya.

Aku lalu mengucapkan terima kasih. Dan berkas kusiapkan. Seperti dana, ijazah, KTP, KK, surat nikah dan akte kelahiran.

Sebelum berangkat aku mampir di sekolahan. Rekanku mengajak jenguk orang sakit. Kukatakan “mohon maaf, aku mau ke imigrasi.” Mereka menduga aku pergi umrah. Maklumlah kini banyak guru yang sejahtera.

Tepat jam sepuluh, mobil warna silver menjemputku. Keluarga melepasku dengan doa. Kemudian melaju ke rumah suami istri jelita (jelang 50 tahun) yang ikut serta.

Memasuki gerbang tol, jalanan macet. Karena perbaikan dan pengecoran. Hampir saja ketinggalan jumatan. Untung dekat masjid di pintu keluar. Kami secepatnya wudlu, cari barisan terdepan, dan salat sunnah. Lantas mendengarkan khutbah.

Sesudah itu makan siang. Warungnya dikerumuni pelanggan. Kebanyakan pekerja pabrikan. Alhamdulillah aku digratiskan.

Sekitar jam satu sampai di kantor imigrasi. Kami diberi tanda pengenal. Terus ke ruang tunggu. Kuamati seluruh benda dan informasi.

Tak luput jua dari pengawasanku. Hampir pembuat paspor rata-rata status sosialnya tinggi. Kalangan “the have” dan akademisi. Lebih dari itu asyik dengan gawai. Up date status secara offline maupun online. Agar tenar di jagad raya.

Sepuluh menit berikutnya aku dipanggil. Diwawancarai seputar nama, tanggal lahir, dan ditanya apa sudah pernah buat paspor?.

Selepas itu difoto. Aku sedikit tegang. Karena setiap dijepret kamera mataku terpejam. Pun gugup saat sidik 10 jari. Mulai dari jempol, telunjuk, tengah, manis, dan kelingking.

Selanjutnya giliran suami istri tadi. Si istri disuruh mengganti jilbabnya lantaran berwarna putih. Sedang si suami bingung, gara-gara tidak ingat nama kakeknya. Alhasil aku membisikinya dengan nama Abdullah. Petugas pun memakluminya.

Sehabis itu kami bercanda di dalam mobil. Si suami tak habis pikir. Kok punya kakek Abdullah yang berarti hamba Allah. Lagipula pria yang mata pencahariannya bertani tersebut, pintar bersilat lidah. Mendorong dan mendukungku untuk mencalonkan kepala desa. Dalam rangka menaikkan peran dan pamor di masyarakat. Aku geli dan terpingkal mendengarkan keluguaannya.

Sebenarnya si suami bukanlah orang pertama yang menyemangatiku. Sebelumnya muspika dan kepala desa juga berharap aku bersedia sebagai Pj. Alasannya karena PNS. Tapi aku keberatan.

Bakda asar kami tiba di rumah. Disambut anak, istri dan mertua. Adk iparku datang, dan heran kok banyak buah jeruk?

Kuceritakan dengan gamblang. Bahwa itu ole-ole dari jalan-jalan barusan.Termasuk tentang undangan sekaligus bedah buku di negeri jiran. Dia meluapkan kegembiraan atas ketenaranku belakangan.

Begitu pula dengan ibu, adiik kandung, dan bibiku sangat senang. Kukabari bahwa aku baru kembali dari imigrasi. Mereka merestui rencanaku ini. Akhirnya nama harum dan terbang keluar negeri bukan mimpi.

Semoga aku tidak lupa diri. Tidak tua-tua keladi. Namun seperti padi. Semakin hari tambah berisi. Digemari dan dikagumi.

*PRM Takerharjo Solokuro. Guru SMP Karanggeneng Lamongan. Alumni UIN dan UMM. Anggota KBM Bojonegoro.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here