Cermin Diri #4: Keberuntungan Dalam Jum’atan

0
119
Foto Presiden Turki shalat jumat di Masjid Istiqlal diambil dari tribunnews

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

Alim adalah sosok remaja Islam yang mempesona dari sebuah desa. Seratus persen muslim penduduknya. Ada dua masjid besar di kampungnya. Tidak terlalu jauh dari rumahnya. Adzan saling bersahutan membahana. Memanggil orang beriman agar shalat jumat berjamaah.

Saat itu ia sedang jual beli pulsa. Lalu asyik internetan bersama temannya. Neneknya memanggilnya. Lama sekali tak dihiraukannya. Setelah diberi penjelasan, bahwa jika pria muslim sudah lebih dari 7 tahun usianya harus ikut shalat berjamaah. Kecuali hamba sahaya, anak kecil, orang sakit dan wanita.

Dengan sedikit kesal dan bermuram durja, ia pergi bersama ayah naik sepeda. Ia terkesima dengan khatib yang menyampaikan bahwa” Hai orang-orang yang beriman, jika adzan jumat berkumandang, maka segeralah ke masjid, tinggalkan jual beli atau pekerjaan dan permainan, yang demikian itu lebih baik bagimu jika mengetahui”. Seperti yang tertera dalam al Quran surat jumah.

Jumatan kedua, sebelum adzan ia memaksa ayah segera berangkat menuju masjid desa. Padahal badannya kotor setelah main bola. Rambutnya awut-awutan tak tertata. Baunya kecut menyebar ke sekelilingnya. Pakaiannya kusam dan penuh noda. Sebentar, sebelum pergi disunnahkan mandi keramas, pakai sabun, mengenakan pakaian terbaik dan minyak wangi, saran ayahnya.

Jumatan ketiga, ia berani berangkat sendirian tanpa ayah. Di tengah perjalanan, ia berjumpa teman sekelasnya. Mereka singgah di sebuah rumah. Saat iqomah, baru berlarian disaksikan para jamaah. Salah satunya menasehati supaya tidak diulanginya. Karena barang siapa yang datang pertama seolah berkurban unta, kedua seolah berkurban sapi, ketiga seolah berkurban domba, keempat seolah berkurban ayam dan kelima seolah berkurban telur. Maka bersegeralah ke masjid atau rumah Allah. Jangan nongkrong di rumah tetangga.

Jumatan keempat, ia menempati barisan paling belakang. Bersandar pada sebuah tiang. Khutbah tak dengarkan. Justru berbincang-bincang, mengganggu ketenangan. Esoknya ia diingatkan gurunya di sekolahan dan dihukum ringan. Sebab Mujahid menganggap khutbah jumat sebagai pengganti 2 rakaat dalam shalat dzuhur, maka bagi yang tidak mengikutinya, ia harus shalat dzuhur 4 rakaat. Itulah pentingnya mengikuti khutbah.

Jumatan kelima, ia berada di tengah barisan. Karena lelah bermain, ia mengantuk tak tertahankan. Saat kotak infaq lewat di depannya, ia ambil uang di sakunya 2000 rupiah. Tak diketahuinya uang seratus ribu jatuh di belakangnya. Ia ditepuk pundaknya oleh tetangganya sambil ditunjukkan uang 100.000 warna merah. Ia ambil uang itu dan dimasukkan ke kotak jariyah. Dalam hati ia mengira, betapa dermawan orang di sampingnya. Sehabis salam ia dipuja. Ia bingung tak tahu mengapa. Ia dibilangi bahwa 100.000 tersebut merupakan uangnya. Ia terperangah, ingin mengambilnya, tapi terlanjur basah. Layaknya sebuah peribahasa. Perilakunya membuat jamaah tertawa.

Jumatan keenam, ia berniat berada di barisan depan. Agar mendapatkan ganjaran sebesar onta seperti yang pernah ia dengarkan dari pengajian. Sehingga berjalan melewati pundak jamaah yang datang duluan. Ia pun ditegur, jika tindakannya kurang etis dan berlebihan serta tak sopan. Mengganggu ketenangan jamaah adalah dosa.

Jumatan ketujuh, ia datang lebih awal, duduk di belakang imam. Tanpa shalat sunnah sebelumnya. Saudaranya membacakan hadis bahwa pada suatu hari ada seorang masuk masjid, waktu Rasulullah sedang berkhutbah, lalu beliau bertanya, sudahkah kamu shalat? Orang itu menjawab belum, kemudian Rasulullah menyuruh, shalatlah dua rakaat dengan agak dipercepat.

Jumatan kedelapan, karena ia sudah merasa lelah, usai shalat didirikan, langsung pulang. Kakinya menerjang jamaah yang masih khidmat dzikir kepada Tuhan. Seorang takmir menghentikan langkahnya dan memberikan wejangan, bahwa itu tak dibenarkan. Tarjih menyatakan, kerjakanlah shalat empat atau dua rakaat sesudah jumatan langsung atau nanti di rumah.

Jumatan kesembilan, ia tak bergerak atau bergeming dan malas jumatan. Lantaran tindakan selalu disalahkan. Ibunya memberi pengertian, beruntung banyak orang yang rela memberi peringatan. Sebab itu bermanfaat bagi orang yang benar-benar beriman. Ia sadar dan bergegas sembahyang. Setelah mencari alasan. Misalnya tokoh idolanya juga belum berangkat jumatan, masih sibuk menyelesaikan perdagangan.

Jumatan kesepuluh, ia masuk masjid mendahulukan kaki kiri, yang benar adalah kaki kanan. Sambil berdoa ya Allah bukakanlah pintu-pintu rahmatmu. Sebaliknya kalau keluar dahulukan kaki kiri baru kanan. Itulah wejangan kyainya yang langsung menghampirinya.

Jumatan kesebelas, ia pergi lebih tenang. Perbuatan itu menjadi pembebas dosanya selama antara jumat hari itu dengan hari jumat berikutnya. Maka ia mengajak sahabatnya agar tak membikin kegaduhan. Sehingga orang marah padanya.

Jumatan keduabelas, ia turut membantu petugas kebersihan masjid mengepel dan menyapu. Biarpun tak disuruh. Ia kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Jumatan ketigabelas, ia kerjakan shalat dengan ikhlas. Ia lawan rasa malas. Meskipun keadaannya panas. Tak ada teman yang sekelas. Karena mereka menikmati es segelas. Di warung pak Mukhlas.

Jumatan keempatbelas, ia memotong kuku. Supaya tidak ditempati syetan yang terkutuk. Dan melakukan beberapa anjuran nabi, sebagaimana diajarkan bapak ibu guru.

Setahun kemudian, ia ikut latihan mengaji, adzan dan iqomah. Pernah dilombakan juara 3 di madrasah. Semua merasa bangga dan berharap semoga ia calon muadzin berikutnya.

Ketika di bangku sekolah menengah, ia aktif organisasi siswa intra sekolah. Kegiatannya latihan qiraah, ceramah, nada dan dakwah serta olahraga. Selain itu ia asah terus kemampuan berceramah. Melalui pesantren malam yang ada.

Selanjutnya ia masuk perguruan tinggi ternama. Ambil fakultas tarbiyah jurusan pendidikan agama. Kurang lebih empat tahun lamanya. Tanpa putus asa dan tak kenal lelah. Lalu lulus dengan predikat memuaskan keluarga besarnya yang tercinta.

Sesudah itu ia tumbuh menjadi pemuda. Yang selalu terpaut hatinya di masjid terdekatnya. Setiap jumat pagi ia giat bekerja. Membersihkan kaca dan jendela. Menyapu dan mengepel lantai serta menyiapkan pengeras suara.

Siangnya ia mendampingi muadzin adzan dan iqomah. Bila sewaktu berhalangan, ia yang mewakilinya. Suaranya merdu, menyentuh hati pendengarnya.

Lain daripada itu, tata cara jumatan hampir sempurna. Kukunya dipotong rapi tak ada kotorannya. Badannya bersih dari ujung kaki hingga kepala dan memancarkan cahaya. Pakaiannya putih, wangi dan indah.

Jalannya tenang dan bersegera ke tempat shalat biasanya. Mendahulukan kaki kanan sambil berdoa. Mengisi kotak amal jariyah tanpa riya. Terus menuju shaf pertama. Ia lakukan shalat sunnah hingga dimulai khutbah.

Pandangan matanya tertuju ke arah khatib di mimbar utama. Diperhatikan dengan seksama wasiatnya. Kemudian diikuti yang baik sesuai ketentuan syariah. Tatkala pergantian khutbah kedua, ia panjatkan doa. Karena itu merupakan waktu yang mustajabah.

Sementara shalat dimulai, ia rapatkan dan luruskan barisan. Lantas mengikuti gerakan imam dengan tumakninah. Sehabis itu ia berdzIkir dan bergeser untuk shalat sunnah. Kadang ikut bercengkrama dengan ulama sekaligus menghitung hasil infaq jamaah.

Keluar dari masjid ia dahulukan kaki kiri dan berdoa. Sampai di rumah, ia makan dan kembali bekerja. Mencari rizki halal dan berkah.

Akhirnya ia dipercaya sebagai imam dan khatib melalui musyawarah. Sebagai pendakwah muda yang penuh gairah. Di tengah kelangkaan kawula muda yang siap berkhutbah. Kebanyakan dari mereka hanya sebagai komentator,pengumpat dan pencela.

Pesan moral yang bisa dijadikan hikmah, untuk mewujudkan generasi muda yang sidiq amanah tablig dan fathonah, diperlukan kerjasama siapa saja berdasarkan kemampuanya. Silakan dalam bentuk peringatan, teguran, saran, wejangan, hukuman dan ceramah. Syukur kalau bisa lewat keteladanan, karena lebih ampuh dan mengena.

*Aktivis Muda Muhammadiyah Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here