Cermin Diri #40: Diselamatkan Godhong Gedhang

0
137
Foto pohon pisang di kali dari dokumen Mushlihin

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

 

Pagi buta selepas aku ikut ceramah, istriku berkata dengan sopan. “Ayah tolong carikan daun pisang!”. Tanpa tanya kegunaan, aku langsung ambil sepeda pancal “polygon’. Sebagai wujud cinta kasihku padanya.

Sebagaimana status facebook seorang akhwat. Seorang suami hebat ialah yang bertanggungjawab. Bukan sekedar memenuhi sahwat.

Aku berhenti di tepi sungai. Nampak beragam pohon pisang berjajar rapi. Di dekatnya ada nenek duduk sendiri.

“Nek, permisi ! Cucumu butuh daun pisang”. Sapaku dengan rendah hati.

“Ambil daun pisang kok pagi-pagi”. Sahut nenek. Aku semakin tak mengerti.

Tiba-tiba emak keluar menggendong bayi. Kuhampiri agar bersedia mencarikan permintaan istri. Otomotis gendongannya kuganti.

Kutimang-timang keponakanku. Ia tersenyum dan memeluk erat tubuhku. Keinginanku memperoleh keturunan perempuan semakin menggebu. Ya Allah kabulkanlah doaku.

Bibiku yang mau ke pasar juga heran, dan berujar “apa nggak berembun daunnya?” Lalu disentuh dengan tangan kanannya. Oh, ya kering dan tidak basah.

Jadi itu alasannya toh, mengapa tak laik ambil daun pisang pagi hari. Kini aku baru mengerti.

Daun tersebut adalah milik keluargaku. Yang berada di pojok depan rumah emakku. Jenisnya ada yang emas dan adapula yang susu.

Sementara yang di bantaran kali milik desa. Meski yang menanam warga sekitarnya. Sudah berulangkali di potong dan diperingatkan supaya tak ditanaminya. Tapi namanya manusia, masih bersikeras memanfaatkannya daripada sia-sia.

Berbeda dengan bapakku. Yang semasa hidupnya bersikukuh tidak mau menanam di ladang orang. Karena ia mematuhi aturan. Dan takut makan barang yang remang-remang. Apalagi yang jelas-jelas haram.

Pernah emak menanam pisang di pinggir kali. Karena permohonanku sendiri. Atas izin-Nya berbuah besar tanpa biji. Warga lain jadi iri. Lalu dibabat habis oleh bapak pakai sabit yang tajam sekali. Ketika bertunas lagi, dibakar hingga mati.

“Anakku, ini daun pisangnya.” Emakku memanggil penuh cinta.

Gilirannya daun itu kutali. Dan dimasukkan kantong plastik bekas ubi. Lantas kubawa pulang dengan hati-hati.

Selanjutnya kuserahkan pada istri. Rupanya untuk pepes ikan yang barusan dibeli. Memang itu kesukaanku akhir-akhir ini. Sebab rasanya mantap dan gampang dikunyah serta tidak terselip di gigi.

Selain itu sebagian dari daun pisang untuk membungkus lemper dan nasi. Baunya wangi dan mudah terurai. Seperti halnya daun jati. Keduanya adalah pembungkus alami yang kini mulai digemari.

Senyampang menunggu masakan matang. Pikiranku melayang. Mengenang beberapa hal tentang pohon pisang.

Termasuk sekolahku yang ikut lomba adiwiyata, kantinnya harus bersih. Bebas dari 5 P (pengawet, pengenyal, pewarna, pemanis dan perasa). Maksudnya kalau ingin menang harus menghindari zat kimiawi.

Di samping itu daun pisang bisa untuk berteduh saat hujan. Bilamana tak punya jas atau payung. Kala bepergian bersama pasangan. Apalagi yang sedang kasmaran.

Lebih dari itu benda yang dikenal dengan godhong gedhang oleh masyarakat Jawa tersebut, berperan menyelamatkanku.

Menurut pengakuan pamanku, dulu aku mengalami luka bakar di jari tangan kiriku. Saran dari sejumlah orang harus dibalut daun pisang. Sebagai upaya pertolongan pertama pada kecelakaan. Hasilnya lumayan. Alhamdulillah bisa bernafas sampai sekarang.

Namun perlu diwaspadai dan diperhatikan. Gara-gara daun pisang, tetangga saling uring-uringan. Bermula dari penanaman pisang di bau jalan. Oleh aparat pemerintahan ditertibkan. Yang masih ada hubungan kekerabatan. Karena kurang pengertian. Penanam marah dan menyalahkan seksi ketertiban. Yang tidak lain rekan yang bersangkutan.

Setelah dilakukan pendekatan, dicapailah kesepakatan. Bahwa berdasarkan peraturan desa menguasai dan mengolah tanah negara tidak dibenarkan. Tanpa seizin pejabat berwenang.

Akhirnya kedua pihak saling memaafkan. Akibat kesalahpahaman. Win-win solution dikedepankan. Tidak ada yang merasa dirugikan atau dikalahkan. Warga disilakan menanam, asal berupa toga dan kembang. Setali tiga uang diikutkan green and clean tingkat kecamatan. Keren, bukan?

Lamunanku terhenti. Usai dicolek istri. Sambil menghidangkan sarapan pagi. Lauk pepes beraroma wangi. Terhindar dari racun yang membahayakan jasmani. Jadinya ingin nambah sebungkus lagi.

Sayangku terima kasih! Engkau turut andil menyelamatkan penduduk bumi. Sebagai khalifah fil ardhi.

*PRM Takerharjo Solokuro. Guru SMP Karanggeneng Lamongan. Alumni UIN dan UMM. Anggota KBM Bojoegoro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here