Cermin Diri #42: Ingin Jadi Pemimpin Harus Biasa Cuci Piring

0
323
Foto seorang guru dan pemimpin dari dokumen Mushlihin

 

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Ahmad, siswa kelas dua belas dahaga. Ia mengambil segelas air mineral di aula. Kala sedang digelar seminar kader berkemajuan di Madrasah Aliyah. Orang yang diharapkan memegang peran penting dalam pemerintahan setingkat perwira.

Lalu air di minum secukupnya. Sedang sisanya ia semburkan ke wajah teman sekelasnya. Kontan suasana yang tenang berubah gegap gempita. Setiap mata yang menyaksikannya sangat menyesalkannya.

Termasuk pendidik mata pelajaran bahasa yang saat itu melihatnya. Beliau segera mengkondisikan kelasnya. Tak lupa memberikan peringatan yang bijaksana.

“Anak-anakku perlu kalian ketahui, bahwa minuman tadi merupakan hasil perjuangan yang tidak ringan”, katanya dengan penuh kasih sayang.”

Memang benar minuman tersebut hasil sumbangan dermawan secara door to door (dari pintu ke pintu). Bapak ibu guru dan pengurus tanggalkan rasa malu dan pegal linu. Demi mewujudkan generasi yang beriman dan berilmu.

Di samping itu mereka juga membeli dengan harga yang tidak murah. Lagipula cari uangnya tidak mudah. Melalui iuran lima puluh ribu tiap bulan tiap orangtua siswa.

Selain itu Perusahaan Air Minum kemasan pun susah payah merintis dan mengembangkan usahanya. Butuh waktu lama dan biaya milyaran rupiah.

Selanjutnya bapak itu membandingkan dengan zamannya. “Dulu jangankan bisa minum air kemasan semisal aqua. Minum air kran saja alhamdulillah. Malahan ada yang minum air kubangan di sawah. Bekas jejak kaki binatang ternak si pengembala.

Caranya agar bening, maka dicelupkan daun pisang yang ada getahnya ke dalam air seadanya. Lantas diminum tanpa ada keluhan muntah- muntah. Alias dalam keadaan sehat dan perkasa.

Padahal kalian tinggal ambil tanpa biaya. Tidak mengambil air dari sumur. Lantas memikul air di pundak, puluhan kilo jaraknya. Naik turun anak tangga.”

Semua siswa terdiam seribu bahasa. Mereka menyadari kekeliruannya. Kemudian saling bermaafan tanpa disertai ancaman dari pihak lainnya.

Setelah itu mereka sangat hemat air. Bila minum sambil duduk dan sekedarnya saja. Jika tersisa disimpan di tempat yang aman. Sehingga tidak kelabakan mencari saat haus mendera.

Namun masalahnya sampah gelas plastik berserakan di mana-mana. Sampai menggunung tiap harinya. Aroma tak sedap menyeruak ke sekitarnya.

Solusi berikutnya sampah dibakar habis tak tersisa. Asap mengepul terbang ke angkasa. Penderita asma semakin tersiksa.

Akhirnya disediakan galon dan gelas kaca. Habis dipakai tak dicuci masing-masing pemiliknya. Dibiarkan menumpuk di atas meja. Dihinggapi lalat dan bertelur di sana.

Dalam rangka mengajarkan sikap tanggungjawab dan mandiri serta tidak selalu menggantungkan sesama, setiap gelas maupun piring diberi nama. Sehingga ketahuan siapa pelakunya.

Supaya kapok, pelaku didenda. Sembari disentuh kesadarannya lewat kisah. Bahwa dulu ada seorang murid mencari guru terbaik di negerinya. Guru yang paling hebat tinggal di tempat yang jauh dan sulit dijangkau. Karena tekadnya yang kuat ia berangkat dan sampai di rumahnya.

“Apa yang membuatmu tiba di sini ? tanya sang guru.

“Saya ingin menjadi orang arif bijaksana dan kepala negara”.

“Baiklah, sebelum saya terima, apakah engkau cuci piring dan gelas usai makan?

“Tentu saja tidak sempat. Berangkat ke sini merupakan hal penting, jangan sampai terganggu hal sepele,”

“Kamu salah, sekarang pulanglah dulu, cucilah peralatanmu! Bagaimana mungkin engkau bisa menjadi pemimpin yang bertanggungjawab terhadap masyarakat dan negara, sedangkan engkau tak bisa membereskan barang yang telah engkau pergunakan”.

Ahmad tersentak. Sejak itu selalu hemat dan cuci peralatan pribadi. Pembiasaan sikap tadi, mengantarkannya menjadi Pimpinan Ikatan Pelajar Muhammadiyah di wilayahnya.

Semoga mampu menginspirasi dan diteladani calon pemimpin negeri mendatang. Siapapun yang menang.

 

*PRM Takerharjo Solokuro dan guru SMP Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here