Cermin Diri #43: Kartini Melamar Kartono

0
195
Ilustrasi diambil dari tren.keropak.co.id

 

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Kartono mahasiswa semester akhir terlibat adu mulut yang sengit dengan ibu kostnya. Atas pernyataannya bahwa di desanya sudah menjadi tradisi pria dilamar dan ikut ke rumah wanita bila telah menikah. Ibu kostnya dengan nada tinggi memprotesnya. “Kok enak betul!” keluhnya.

Setahun kemudian Kartono bekerja sebagai pegawai tetap yayasan. Ia membuktikan pernyataannya. Ia pun dilamar oleh Kartini. Putri ketua yayasan. Namun ia belum berkenan ke jenjang pernikahan.

Tak berselang lama Kartono menulis pada kolom surat pembaca di majalah. Tulisannya ditanggapi seorang Kartini dari Cirebon kota. Singkat cerita wanita itu bermaksud melamar dan siap menikah. Tapi pintu hatinya belum terbuka untuknya.

Selanjutnya Kartini sang pembina ekstra menaruh hati padanya. Wanita itu memaksa agar sudi menikah dengannya. Lagi-lagi Kartono belum bersedia membangun mahligai rumah tangga.

Setelah itu Kartini pembina pandu mencoba keberuntungannya. Melalui pihak ketiga, mengantarkan surat cinta. Kartono masih tak sanggup membalas ketulusannya.

Kini giliran Kartini Blitar memberanikan dirinya. Dibantu sepupunya bersilaturrahim ke rumahnya. Namun Kartono tak kunjung menemuinya lantaran ada acara yang tak bisa ditinggalkannya. Wanita itu pulang dengan tangan hampa.

Bahkan seorang Kartini si janda kembang kaya raya ikut bersaing memperebutkannya. Laksana Siti Khadijah yang sangat berkeinginan untuk menikah dengan Muhammad. Melalui teman wanita Khadijah, yakni Nafisah binti Munayyah. Namun lagi-lagi ditolak Kartono dengan bijaksana.

Tepat di usianya ke-29 Kartono baru bisa menerima lamaran Kartini shalehah, jelita, kaya dan putri tokoh agama. Kartono berucap bismillah semoga dialah yang terbaik untuknya. Akad nikah dilakukan penuh hikmah. Diteruskan pesta sederhana. Dihadiri tetangga, kolega, dan seluruh warga.

Kartono tak habis pikir, mengapa begitu banyak bidadari yang mengidamkannya. Padahal pada umumnya prialah yang mengejar cinta seorang gadis pujaannya.

“Apakah patut dan pantas seorang wanita muslimah alias Kartini di atas melamar dan mengajak menikah pria dambaannya?” Pertanyaan tersebut terbersit dalam pikiran Kartono. “Tentu siapa saja punya hak menentukan pendamping hidupnya.” Kartono menjawab sendiri pertanyaannya.

Benarkah demikian? Tak puas dengan praduganya, Kartono lalu menyimak beberapa pandangan agama mengenai meminang atau khitbah. Sebenarnya tidak ada larangan wanita melamar pria. Walaupun pada umumnya pria yang meminang wanita.

Anas berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi untuk menawarkan dirinya kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menginginkanku?” Anak perempuan Anas berkata, “Sungguh orang tidak punya malu, betapa jeleknya engkau”. Anas berkata, “Dia lebih baik daripada kamu. Dia tertarik kepada Nabi lalu menawarkan dirinya”.

Ibnu Hajar juga menjelaskan perempuan boleh menawarkan diri pada laki-laki dan mengungkapkan cinta kepadanya. Sikap ini tidak membuatnya tercela. Laki boleh memilih, tetapi jika menolak tidak secara terus terang, cukup dengan isyarat diam.

Sementara menurut Imam Nawawi, seorang perempuan dianjurkan untuk menawarkan diri kepada laki laki saleh agar mau mengawininya.

Bahkan Ummu Habibah istri nabi juga pernah menawarkan saudarinya kepada nabi.

Kartono mengernyitkan dahinya. Sebaliknya sesudah berumah tangga malahan Kartono dipercaya keluarga pria menyunting perempuannya di dalam dan di luar kota Lamongan. Umpamanya wilayah Gresik, Tuban, Bojonegoro, Nganjuk, Surabaya, Kediri, Banyuwangi dan Blitar serta Jepara.

Kartono berkesimpulan pria dilamar wanita atau sebaliknya sah berdasarkan agama maupun hukum negara. Janganlah memperuncing perbedaannya antara daerah satu dengan lainnya. Masing-masing daerah punya adat dan kearifan yang perlu dijaga.

 

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here