Cermin Diri #44: Kuat Duite Tak Kuat Wetenge

0
167
Foto lezatnya aneka toping es krim diambil dari pergikuliner.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Pramugari mondar-mandir. Mengantarkan pesanan penumpang. Sesuai daftar dalam lembaran. Memakai kereta dorong berisi beraneka mamin dan boneka.

Sebagian orang pun menikmati hidangan. Marina tom yam, fish muruku, ayam goreng, roti, dan kentang.

Sedang kanan kiriku cuma menelan ludah. Sampai ikut menyodorkan tiket. Dikira semua dapat jatah. Pelayan menolak dengan santun. Sebab namanya tidak tertera di menu.

Satu jam kemudian pramugari mendorong lagi kereta. Melayani penumpang asing yang haus dan lapar. Caranya tinggal tekan tombol di kabin. Maksud hati aku menirunya. Apa daya uang tak punya. Weteng karep bondo cupet.

Saat pesawat mendarat, penumpang turun. Berjalan jauh naik turun tangga. Lalu antre di imigrasi lama sekali. Sehingga dahaga kian mendera.

Dua orang sahabat telah menunggu di pintu keluar. Mereka menyapa dan langsung menggiringku ke restoran terkemuka. Sekotak fried chicken dan burger disajikan. Ditambah segelas besar es teh tarik segar. Biarpun tanpa nasi, ususku langsung kenyang.

Perjalanan dilanjutkan. Terus berhenti sejenak di masjid. Salat jamak qasar dhuhur asar. Kipas angin besar tergantung di langit-langit. Memanjakan para jamaah agar khusyuk beribadah.

Setelah itu menuju rumah susun. Di lantai tiga. Seorang saudara siap menyambut. Beberapa botol air mineral delite, pepsi, teh tarik dihidangkan. Hingga kerepotan mana yang didahulukan. Tidak mungkin seluruhnya ditelan.

Selepas magrib aku ditraktir di warung terdekat. Menunya tinggal pilih. Sup tulang, ayam penyet, kakap atau dadar. Usai menyantap lambungku mekar.

Ketika pulang ke apartemen disuguhi beragam buah. Apel, jeruk pisang, semangka, pear, anggur dan duren. Wow, ngiler mencium aromanya. Kupraktekkan pesan kakek Dalang. Kutuangkan air di kulit duren. Terus kuminum. Mak srep!

Kala sarapan, aku dibawa ke kedai marhaba raheesh. Bertemu orang Melayu, Cina, Bangladesh, India, Thailand, Pakistan dan TKI. Mereka menikmati mie, canai, nasi hingga panggang babi.

Kakakku yang setia menemaniku bertanya. Bagaimana hukumnya muslim yang bekerja di restoran tersebut? Jawabku hukumnya bisa haram, makruh, atau mubah. Tergantung niat dan keadaan. Artinya sebisa mungkin dihindari, kecuali kalau darurat.

Giliran makan siang aku diundang ke warung milik warga Indonesia. Nasi jagung, ikan krapuh, asem wagal, tongkol dan lemper. Dalam lima hari perutku bisa buncit mengembang. Untung aku teringat larangan berlebih-lebihan dalam Al Quran.

Jadi semula ingin makan susah.Sebab uang tiada. Namun kini makanan berlimpah perut meronta. Membenarkan istilah Kuat duite tak kuat wetenge.

Akhir kata aku hanya berdoa. Untuk orang yang memberi minuman dan makanan sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِيْ وَاسْقِ مَنْ سَقَانِيْ.
“Ya Allah! Berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makanan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku.”

Kuala Lumpur, 22 April 2019

*Pengurus Muhammadiyah Ranting Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here