Cermin Diri #49: Mengambek

0
439
Foto diambil dari Ahmadakbarkhatami.blogspot

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

Tiga bocah ceria belajar menjalani puasa. Tak berselang lama ibu muda datang. Lalu mengajak internetan. Mengalihkan lapar dan dahaga mereka.

Hanya dua bocah usia 7 tahun menyambut dengan riang. Sementara yang berumur 10 tahun merajuk. Karena tabletnya disikat sepupu. Ia pun tak tega merampasnya.

Sehingga merengek pinjam gawai ayahnya. Namun ditolak. Sebab masih digunakan chat.

Ia mengambek. Si ayah merasa bersalah. Spontan gawainya diberikan. Akan tetapi ia tidak sudi ikut ngenet. Diam saja mematung.

Meskipun anak dibujuk dengan penuh kelembutan. Misalnya, “kalau ngambek puasanya sia-sia lho.” Lagian orang yang dapat mengendalikan emosi adalah sebagai orang terkuat.

Ia terus duduk di ruang tamu. Mukanya ditekuk. Bergeming.

Ayah yang sudah hafal watak anaknya, lebih memilih pergi. Masuk kamar. Baca buku. Sesekali mengintip anaknya dari lubang pintu.

Si anak lalu berbaring. Sambil nonton televisi. Sampai tertidur pulas. Mukanya masih masam.

Saat azan duhur berkumandang, ayah membangunkannya. Dengan agak bermalas-malasan, si anak ambil wudlu.

“Ayo jamaah ke masjid,” kata si ayah.
“Ya, tapi aku mau naik sepeda sendiri,” jawab si anak. Rupanya anak masih sebel dengan ayah.

Usai salat, ayah mendekati anak. Disodori al quran. Anak menggeliat. Bibirnya melafadkan ta’awudz. Wajah muram mulai berseri-seri.

Maha suci Allah. True story di atas, semakin memantapkan kebenaran hadis Rasulullah dalam meredam amarah. Menurut hadis riwayat Ahmad. Jika kalian marah diamlah.

Bila masih murka, maka duduklah. Kalau belum hilang juga tidurlah. Andaikan tak mempan, wudlulah.

Kemarahan itu dari syetan. Sedang syetan tercipta dari api. Api hanya bisa padam dengan udara.Maka jika kalian marah wudlulah. Demikian menurut Abu Dawud.

Umpama tetap dongkol, bersujudlah. Menurut Tirmidzi, ketahuilah sungguh marah itu bara api dalam hati manusia. Tidak bisa melihat merah dan tegang urat darah di leher.

Umpama belum reda, silakan mengaji. Mulailah dengan baca ta’awud. Bukhari Muslim meriwayatkan, ada kalimat kala diucapkan niscaya akan dihapus dari seseorang. Yakni aku berlindung dari godaan syetan terkutuk.

Semoga kita bisa mengendalikan amarah. Sebagai tanda orang yang bertakwa. Yang merupakan tujuan berpuasa.

 

*PRM Takerharjo Solokuro. Guru SMP Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here