Cermin Diri #5: Gara-Gara TIK

0
110
Foto diambil dari jalantikus

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Gara-gara berarti sebab atau lantaran. Sedangkan TIK singkatan dari Tekhnologi Informasi dan Komunikasi. Contohnya yaitu komputer, handphone, dan televisi serta wifi. Nah, maksudnya saya bisa mendengar, berbicara, membaca dan menulis lantaran TIK. Sebaliknya sebab menulis pada khususnya, saya mengenal, menguasai, dan memiliki TIK yang canggih. Ceritanya sebagaimana berikut ini.

Sekitar tahun 1992 saya masuk kuliah. Untuk menambah wawasan dan mengasah ketrampilan menulis, saya ikut pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan Senat Mahasiswa. Saya diajak study banding ke Jawa pos dan Harian Surya Surabaya.

Pada tahun 1996 saya harus menulis skripsi. Sebagai persyaratan mendapat gelar Sarjana Agama dari Institut Agama Islam Negeri Malang. Sejak itulah saya dikenalkan komputer untuk pertama kali. Oleh beberapa orang yang cukup ahli. Hasilnya sangat berkesan dan memuaskan hati.

Lalu tahun 2000, saya dipercaya sebagai kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Dalam rangka tertib administrasi dan menjamin mutu warga sekolah, kami berupaya membeli tv dan sebuah komputer dengan susah payah. Kami pergi ke Malang naik bis antar kota. Singgah di tempat jasa dan jual beli komputer second yang murah. Dalam perjalanan pulang kami terpaksa naik taksi agar cepat sampai di rumah. Walaupun sempat mogok agak lama.

Komputer kami pasang, mendatangkan sarjana diploma dibidangnya. Ketika nyala semua warga terpesona akan kecanggihannya. Dan semua tenaga kependidikan dikursus agar bisa mengoperasikannya. Sebagai media belajar yang tepat guna. Selanjutnya diimbaskan pada seluruh warga sekolah. Sebagian besar sangat mendukung dan gembira.

Kemudian tahun 2001, saya dapat beasiswa. Kuliah sarjana S1 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris pada Universitas Muhammadiyah Malang yang ternama. Supaya memperoleh informasi dengan cepat dan komunikasi lancar dengan kolega, saya dipinjami hp paman yang baru datang dari Malaysia. Betapa bangga memegang telephone genggam yang pada saat itu masih langka dan besar biaya pulsanya.

Di tahun 2007 saya ditunjuk sebagai kepala Madrasah Aliyah Muhammadiyah. Program unggulannya pembelajaran berbasis multimedia. Makanya kami mengusulkan proposal pada pemerhati pendidikan dan pemerintah. Lumayan satu laptop kami terima guna menunjang kinerja.

Ketika tahun 2008, saya diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah. Jabatan tersebut mewajibkan penggunaan media. Gaji pertama dan kedua saya belikan laptop biasa. Untuk membuat perangkat pembelajaran sebagaimana mestinya.

Saat tahun 2013 saya diminta dengan hormat, menahkodai SMP Muhammadiyah. Program utama adalah melengkapi sarana prasarana. Salah satu yang mendesak adalah tersedianya laboratorium komputer dan bahasa.

Berbagai usaha dan cara untuk mewujudkannya. Karena keterbatasan dana, sehingga belum terpenuhi semua. Manakala melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer, terpaksa ikut SMA Muhammadiyah. Untung jaraknya dekat dan di bawah naungan pengurus yang sama.

Usaha lain yang saya coba yaitu merangkai kata. Terus saya jadikan kalimat utama. Dikembangkan menjadi beberapa paragraf. Dan jadilah artikel yang saya kirim melalui facebook, WA dan media online terkemuka. Memakai komputer, laptop, dan hp sederhana. Dibimbing penulis Sahabat Pena Nusantara. Seorang calon doktor di International Islamic University Malaysia. Dulunya adalah peserta didik saya di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah.

Kini di tahun 2018 saya harus bekerja ekstra. Permintaan pertemanan dan bergabung dengan Komunitas Belajar Menulis menggila. Sehingga saya kuwalahan menanggapinya. Apalagi diwaktu jam kerja. Namun tetap saya upayakan sepatah dua kata. Yang penting bermakna dan berfaedah. Bukan sara atau membuka aib sesama.

Alhamdulillah mendapat tanggapan beragam dari pembaca. Diantaranya ESQNews, klikmu, Kita Bisa Menulis dan para alumni sukses SMPM 5 se nusantara. Mereka mengadakan reuni akbar dan menyumbangkan 3 perangkat komputer setiap angkatan yang berbeda. Selain itu bisa membeli hp android sendiri seharga 2,5 juta.

Subhanallah wal hamdulillah, bapak Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan selaku alumni, sangat antusias terhadap almamaternya dengan mengirim 5 set komputer baru dan wifinya. Harapannya para siswa menguasai Tekhnologi Informasi dan Komunikasi secara sempurna. Untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia Indonesia.

Sebagai penutup saya tegaskan gara-gara TIK kita bisa menulis artikel dan karya ilmiah. Dan lantaran aktif belajar menulis kita bisa meguasai dan memiliki komputer, laptop dan hp dengan mudah. Oleh karena itu jangan berhenti menulis tentang fenomena demi kebaikan bersama. Berdasarkan firman Allah SWT :

lِ ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُون

Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,
-Surat Al-Qalam, Ayat 1. Yang menyemangati saya dalam berdakwah.

*Penulis adalah sekretaris PRM Takerharjo Solokuro dan Guru SMPN Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here