Cermin Diri #50: Keluyuran

0
233
Ilustrasi diambil dari Tokopedia

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

Pengawas pendidikan pada sekolah indukku telah tiada. Berpulang ke rahmatullah. Sudah menjadi tradisi turun temurun bagiku berkunjung ke rumah duka. Kali ini hanya perwakilan saja. Agar tidak mengganggu pembelajaran.

Karena belajar wajib ain hukumnya. Sedangkan takziyah hukumnya fardu kifayah. Adapula yang berpendapat sunnah. Jangan sampai mengabaikan kewajiban. Demi menggapai anjuran. Yang tidak berdosa jika ditinggalkan. Begitu saran dari pimpinan.

Aku berenam naik mobil Avanza. Onderdil mobil sebagian besar telah aus dimakan usia. Goncangannya sangat terasa. Tapi kami sangat menikmatinya. Sebab masih banyak di antara sahabat yang cuma naik sepeda. Sehingga kehujanan dan kepanasan tak kuasa dielakkannya.

Sayang seribu sayang, bila pergi bersamaan dalam kendaraan susah menahan untuk tidak menggosip. Mesti marak membicarakan aib saudara. Tanpa disadari sama dengan mengumbar aib sendiri. Demi keselamatan, seyogyanya digunakan mengaji dan mawas diri.

Rombongan kami berhenti di rumah duka. Masing-masing menurunkan bantuan sekedarnya. Disambut keluarga dengan ramah. Perbincangan hangat mengudara. Sesekali janda itu meneteskan airmata. Kami sangat iba.

Namun secara umum istrinya cukup tabah. Bahkan melontarkan lelucon dari mendiang suaminya. Misalnya suatu hari si istri ingin menjadi guru. Ia beranggapan guru merupakan penghuni surga. Si suami tak mengizinkannya. “Kalau semua guru masuk surga, apa tidak berdesakan-desakan?”, sanggahnya sambil menggoda.

Selepas itu keluar hidangan. Sepiring rawon. Kami menolak dengan sopan. “Maaf kami sedang berpuasa”. Bukankah musafir dapat rukhsah? Tuan rumah berkilah. “Ya, tapi kala mengganti agak susah,” jawabku sekenanya. Tiba-tiba ada pesan dari rekan. “Mohon berhati-hati. Seluruh guru dan karyawan baik PNS Maupun GTT/PTT, hari ini ada operasi gabungan dari satpol PP”.

Lantas kami berpamitan. Dalam perjalanan pulang, mampir sebentar di kedai es siwalan. Untuk bekal takjil di rumah. Gawai kami berdering. Ada panggilan dari pengawas dinas pendidikan. Beliau menanyakan, di mana posisi sekarang?. Kami bilang terus terang. Tak berani dusta. Lalu dihimbau segera ke sekolahan. Karena ia hendak sidak pondok Ramadan.

Selanjunya kami bergegas menyambutnya. Hampir setengah jam kami menunggunya. Terus kusampaikan pesan bahwa kami siap sedia. Bapak pengawas membalas. “Saya sedang bukber di warung Mbah Pilang. Bila berkenan datanglah sambil membawa buku tamu, stempel, dan stopmap.”

Kami mematuhinya. Di sana ada lima orang. Mereka memilih menu jus alpukat, ikan bakar dan sup buntut. Selagi menunggu pelayan, kami diberi pembinaan. Pikiran negatif bersliweran. Berapa biaya yang harus dibayarkan? Sedangkan keuangan pas-pasan. Kalau tidak mentraktir ya sungkan.

Menu sesuai pesanan dihidangkan. Kami menyantapnya penuh kenikmatan. Ada pesan lagi. “Operasi dari inspektorat dan satpol PP. Bagi ASN yang ke pasar dan warung hari ini, mohon hati hati.”

Setelah itu kami berpisah. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Justru hidangan yang kami tolak di rumah duka, dibalas yang lebih lezat. Tanpa mengeluarkan biaya seperti prasangka semula. Rupanya ada dermawan yang enggan disebut namanya. Maka hindari buruk sangka.

Mengapa demikian? Alasannya karena apa yang kami lakukan bukan ber·ke·lu·yur·an. Pergi ke mana-mana tanpa tujuan tertentu. Melainkan dinas luar yang tidak menyalahi aturan. Dalam rangka menjalin kerja sama yang saling menguntungkan.

Kami tegaskan, hendaklah jangan keluyuran di saat puasa Ramadan. Apalagi sambil menggosip, mengganggu pengguna jalan dan berbuat kejahatan. Mending tadarusan.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here