Cermin Diri #53: Sariawan

0
738
Ilustrasi diambil dari humairoh.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Putra kami bersemangat puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Terutama saat sahur maupun berbuka begitu gembira. Sehingga ia berharap seluruh bulan adalah Ramadan.

Sebab kala sahur berbagai menu makan minum panas tersedia. Terlebih berbuka tambah banyak hidangan. Semua eman kalau tak disantap. Kecuali yang mengandung vitamin C dan zat besi. Anak kami alergi.

Lain daripada itu lidah putra kami tergigit dan luka. Semakin stres. Lagian kebersihan mulut kurang terjaga. Sering lupa sikatan dan langsung tidur usai sahur.

Penyakit rongga mulut menghampiri. Bibir pecah, lidah, gusi dan selaput pipi sariawan. Menimbulkan rasa sakit mendalam. Susah makan dan bicara. Mulut kaku.

Akibatnya ia pun ingin puasa terus menerus. Alias puasa wisal yang terlarang. Sekaligus suka emosional dan meringis kesakitan. Tentu ibu, nenek dan aku merasa kasihan. Turut tidak nafsu makan. Meski menu favorit yang disajikan.

Kami tidak tinggal diam. Segera konsultasi ke dokter dam membeli obat yang manjur. Seperti salep, dan obat tetes. Selain berkumur dengan air garam dan anti kuman serta minum larutan saat buka maupun sahur.

Segala puji bagi Allah, usaha tidak menghianati hasil. Setelah empat hari ternyata berangsur sembuh. Kata ahli, memang sariawan bisa hilang antara 4-20 hari. Selebihnya bisa jadi kanker mulut.

Belajar dari pengalaman di atas, upaya pencegahan pun satu persatu mulai diterapkan. Teringat tindakan preventif lebih baik dari kuratif. Artinya pencegahan lebih utama dari pengobatan.

Misalnya menkonsumsi lebih banyak nutrisi, jaga kesehatan tubuh, sikat gigi sesudah makan atau sebelum tidur, hindari luka tergigit, dan jangan terburu-buru. Apalagi stres.

Bukankah syarat wajib puasa itu waras?

* Kepala SMP Muhammadiyah 5 Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here