Cermin Diri #60: Pijat Plus-Plus

0
163
Foto diambil oleh penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Sehabis jamaah salat isya, anak lelaki nangis terisak. Mengeluh sakit di pergelangan kaki, karena bengkak. Akibat main bola di lahan terbuka.

Spontan dibawa ke tukang pijit. Ahli pengobatan tradisonal. Tanpa sepengetahuan ibunya. Makanya si ibu kelabakan mencari ke sana kemari. Baru tenang setelah dihubungi lewat jaringan pribadi.

Ibunya meragukan. “Mengapa harus ke tukang pijit? Mending ke rumah sakit.”

Ayah meyakinkan pada ibu. “Tabib tersebut sudah lebih dari empat kali kumanfaatkan jasanya. Yaitu ketika abah stroke, emak linu, istri terjatuh, anak cidera, dan aku keseleo. Seluruhnya sembuh seperti semula.”

Ayah sendiri kagum. Lalu bertanya ke bapak. “Bagaimana awalnya sehingga mahir memijit?

Tukang pijit bercerita. “Kemahirannya diperoleh secara otodidak. Artinya orang yang mendapat keahlian dengan belajar sendiri. Dikerjakan pula secara konsistensi. Ketetapan dan kemantapan dalam bertindak. Sehingga hasilnya memuaskan khalayak.”

“Lantas sifat apakah yang harus dimilki tukang pijit yang mumpuni?” Tanya ayah semakin ingin tahu.

“Sifatnya sebagaimana orang kebanyakan dan pandai bermasyarakat. Siapapun yang datang butuh pertolongan, disambut dengan tangan terbuka. Tanpa pilih kasih. Baik rakyat jelata maupun kaum ningrat. Pagi, siang, atau malam. Asal di rumah. Kecuali pasien yang sudah parah. Harus didatangi ke rumah.” tandas tukang pijit itu.

“Berapa biayanya pak?” Tanya ayah sedikit malu.

“Tidak perlu!” balasnya. “Niatku tolong menolong dalam kebajikan dan takwa. Sebak-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” imbuhnya.

“Tapi bapak harus menafkahi keluarga. Juga butuh biaya dari pemulihan usai operasi. Bertani dan keperluan pribadi.” Desak ayah agar bersedia menerima pemberiannya.

“Sudahlah! Bapak harus mengobati tetangga. Ia hidup sebatangkara. Kemudian bapak masih ada tugas mengajar ngaji,” kilahnya.

Ayah menimpalinya. “Bapak memang beda. Bertalenta. Sejak aku kanak-kanak sampai punya anak. Walaupun engkau bukan guru lulusan Perguruan Tinggi. Mushalla di samping rumah tak pernah sepi dari wali santri.”

Bapak terdorong hadis riwayat Bukhari Muslim dari Aisyah “Orang yang pandai Al Quran, kelak mendapat tempat di surga bersama para Rasul yang Mulia. Dan orang yang membaca Al Quran tetapi membacanya tertegun-tegun serta tampak agak berat lidahnya, baginya dua pahala.”

Alasan tersebut memantapkan hati ayah. Tatkala orangtuanya sebagai imam masjid desa wafat tahun lalu, tak salah takmir mempercayakan padanya. Sembari bertani padi dan jagung dibantu istri tercinta. Sedang petang untuk memijit. Mengurut bagian tubuh untuk melemaskan otot sehingga peredaran lancar.

Kini predikat sebagai tukang pijit merakyat sekaligus imam salat, telah populer di kehidupan masyarakat. Mengikis pijit plus-plus yang pernah heboh. Semoga jasanya melayani umat, bisa membahagiakannya di dunia dan akhirat.

*PRM Takerharjo Solokuro dan guru SMP Karanggeneng Lamongan, alumni uin dan umm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here