Cermin Diri #61: Ketinggalan Sembahyang

0
211
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Jarum jam tepat di angka 3. Dai muda bergegas mandi. Pakai baju baru, pewangi dan peci. Siap menuju masjid yang dipenuhi perempuan dan lelaki.

Selepas salat, dai naik mimbar. Kuliah asar. Ucapannya bergetar. Tubuhnya gemetar. Sedih pas Ramadan tinggal sebentar. Prihatin ibadahnya belum kelar. Khawatir tak bertemu lailatul qadar.

Tema yang disampaikan setelah mukadimah ialah ayo saling memberi nasihat. Salat dengan tepat. Karena masih sebaris yang ketinggalan salat. Abu Khansa mengisahkan dalam bukunya menjemput berkah lewat salat hajat. Umar bin Khattab menginfakkan kebun kurmanya gara-gara ketinggalan salat. Beliau langsung bertaubat.

Bandingkan dengan kita. Ketinggalan dianggap biasa. Tak salat pun tidak merasa bersalah. Malahan main petasan kala didirikan salat jamaah. Naudzubillah.

Allah Taala berfirman dalam surat Maryam ayat 59: “Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat.”

Mata dai berkaca-kaca. Ia baca tulisan kaligrafi di dinding dan berpesan, usahakan rajin salat jamaah. Karena bisa mencegah angkara murka dan durjana.

Dai mencontohkan. Fakta di lapangan. Beberapa pejabat dan politikus tertangkap tangan. Sedang jual beli jabatan. Beruntung ada seseorang pria. Namanya sengaja dirahasiakan. Untuk menghindari pencemaran. Yang pulang duluan. Lantaran tidak ingin ketinggalan jumatan. Pria itu kegirangan. Bersyukur tidak ikut ditahan.

Hadirin menyimak dengan sabar. Tak ingin buyar. Dai lantas berkelakar. “Manakah yang lebih utama antara salat ketimbang puasa?”
“Keduanya penting,” jawab sebagian jamaah.
“Tapi kenapa wanita yang haid sesudah suci tak diwajibkan ganti. Sedang kalau puasa wajib ganti di lain hari?” Jamaah semakin tak mengerti.

Dai segera membuat pernyataan. Setuju dengan jawaban barusan. Kewajiban salat maupun puasa jangan diperdebatkan. Tetapi amalkan sesuai tuntunan.

Lebih jauh dai memberi perumpamaan. “Barangsiapa yang tersibukkan dari mengerjakan salat dengan hartanya maka ia akan dikumpulkan dengan Qarun. Barangsiapa tersibukkan dengan kerajaannya maka ia akan dikumpulkan bersama Firaun. Barangsiapa yang tersibukkan dengan kementeriannya, maka ia dikumpulkan bersama Haman. Barangsiapa yang disibukkan dengan perdagangannya maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf kafir Quraisy.”

Para jamaah sedikit paham. Dai berharap. Pas magrib mereka tak lagi ketinggalan. Saf depan harus jadi rebutan. Terlebih di belakang imam. Pertanda peningkatan setelah lebaran.

*Kepala SMP Muhammadiyah 5 Karanggeneng Lamongan. Penulis buku Guru yang Dirindu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here