Cermin Diri #62: Niat Haji Usai Reuni

0
345
Foto kegiatan diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

Sempat beredar kabar-kabari. Usai reuni pasutri gugat cerai. Lantaran cinta monyet saat sekolah bersemi kembali. Sekali lagi itu kasus, tidak semua reuni berujung ngeri.

Contohnya Alumni Perguruan Muhammadiyah Takerharjo Solokuro Lamongan. Malahan mengadakan reuni bareng suami istri. Pertemuan kembali. Bekas teman sekolah atau kawan seperjuangan. Setelah berpisah cukup lama.

Alumni tersebut mengadakan rékréasi. Penyegaran kembali badan dan pikiran. Sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan. Kita memerlukannya sebagai hiburan dan piknik selepas lelah bekerja. Alhamdulillah, sesudah itu dicapai kesepakatan daftar haji atau minimal umrah. Lima tahun targetnya.

Singkat kejadiannya demikian. Senin jam 12.00 bis datang. Di dusun Takeran. Milik pengusaha yang dermawan. Donatur tetap pesantren Tahfidzul Quran. Pada salah satu kecamatan di Lamongan. Tempat duduknya 48. Murah dan nyaman. Sopirnya cekatan.

Jam satu rombongan melaju. Menyusuri jemuran jagung pada jalan berbatu. Di makam Sunan Drajat dan WBL, disuguhi pemandangan lautan biru. Gelak tawa penuh haru. Memadamkan api cemburu. Tak terasa sampai di Desa Jenu.

Bis berhenti. Manakala penumpang kebelet buang air seni. Di toilet atau kamar mandi. Dipilih yang paling bersih. Biarpun bayar tunai. Tak mengapa. Daripada gratis tapi bau tahi dan tercemar bakteri.

Kadang diikuti salat atau ngopi. Sekaligus makan nasi. Olahan alumni putri. Sudah jelas halal dan bergizi. Nikmat sekali.

Setelah itu menuju Semarang. Menjemput tiga orang kawan. Yang telah menunggu setengah jam. Diantar ibu, anak dan menantu perempuan. Suasana berubah riang. Karena bertambah anggaran pendapatan.

Dini hari istirahat di rest area Cipali. Sekedar meluruskan kaki. Mengumpulkan energi. Minum teh hangat dan mi. Hingga salat subuh selesai. Tapi hati-hati, harganya melambung tinggi. Maka tanya dulu sebelum membeli.

Selasa pukul delapan berkunjung ke Istiqlal dan Monas. Namun naas. Diblokade aparat dengan tegas. Karena bersamaan gugatan salah satu pasangan pilpres yang ditengarahi culas. Andaikan jurdil alias jujur dan adil pasti semua ihlas dan puas.

Alumni berupaya menghubungi famili. Penduduk Lamongan asli. Yang puluhan tahun urbanisasi. Kini memiliki kedai. Di pusat kota dan dibanjiri pembeli. Lantaran cukup piawai dan suka memberi. Dan terbukti gampang mengais rezeki.

Sebagai ucapan terima kasih, alumni menyerahkan sekantong beras. Terjamin akan kualitas. Konsumsi dari masyarakat berkelas.

Bersamaan itu muncul pak haji. Ditemani putra putri. Naik kereta api. Alat transportasi yang kian digemari. Cepat, terjangkau, bersih dan rapi.

Alumni dan pak haji berunding. Menentukan tempat rekreasi yang dinilai penting. Dibidiklah Taman Impian Jaya Ancol yang wahananya bikin merinding. Gondola, perahu, jet coaster dan lain-lain.

Jelang asar kemudian ke Bogor. Melewati Kebun Raya, IPB, Kantor Walikota, Taman Kencana dan Istana Presiden. Yang sangat tersohor. Banyak kijang berlarian makan rumput segar. Pun beraneka bunga yang mekar.

Bakda magrib singgah di rumah pak haji. Untuk mandi, ganti, makan dan diskusi. Terpisah antara pria dan wanita. Bangunannya sederhana. Dindingnya perpaduan bata dan bambu. Atapnya galvalum. Dilengkapi springbed. Mantul.

Rabu pagi memetik jambu biji merah. Di halaman sekolah. Adapula yang bermain bola, selfi, foto bersama dan study comparative. Tapi bukan membandingkan suami, istri, dan gaji. Bahaya bila itu terjadi.

Masing-masing alumni menyampaikan pesan kesan. Di villa yayasan Zaid bin Tsabit Bogor. Dikelola H.Nurali. Tuturnya terinspirasi KH. Abdul Fatah (PDM Lamongan) M. Suzaini (ahli tafsir), Abdul Hakim (ahli elektronik) dan pak Ghufron (ahli nahwu) serta Abdullah (guru bahasa Indonesia). Agar fokus mengurusi atau menyantuni fakir miskin dan yatim. Karena yang mengurusi anak orang kaya sudah bertebaran.

Lantas ia bercita-cita setinggi langit. Nikah, punya anak, punya rumah santri, berangkat haji. Satu persatu terkabul.

Bekal kesuksesan meraih cita-cita menurutnya adalah Alquran. Sehingga guru yang melamar di yayasan minimal hafal 2 juz. Sementara peserta didik dibudayakan tiada hari tanpa baca Alquran. Jika lulus diberi hadiah Alquran.

Akibatnya rezeki lancar. Datang tiada disangka. Umrah gratis. Santri membludak. Kendaraan disumbang. Wakaf tanah. Yayasan pun berkembang.

Siapapun bisa mempraktekkan. Syarat mau ihtiar, silaturrahim, doa dan tawakal. Sebaliknya kalau malas berusaha, keadaan tak bakal berubah. Sebab Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum tersebut mengubah dirinya sendiri. Quran surat ar Ra’d ayat 11.

Adapun kesan pesan rekan bermacam-macam. Ingin kaya, umrah, besanan, sahabat sejati, iuran, haji, mondokkan cucu, ekonomi lancar, hafidzah, guru IPS, PAI, peternak, nambah anak, duit, TKI, dan kaya, serta kiat pengusir tikus.

Empat puluhan peserta reuni yang terdiri dari keluarga Nurali, Sholihul Amin, M Zainuri, Nur Amin, Mushlihin, Zainuri, Cik Amin, Khoiriyatun, Zuliyatin, Hariyani, Suziyanah, Umu Salehah, Husniyah, Hanik, Syamsiatun, Nikmatin, dan Mustaqimah, bertekad menyukseskan obrolan ringan sambil dagelan tersebut. Yakni niat daftar haji dan umrah bareng. Caranya ialah iuran bulanan 500,000 / orang. Target maksimal lima tahun ke depan. Dibayarkan pada relawan dalam bentuk tabungan.

Selanjutnya seluruh peserta reuni sarapan. Bakso, ayam goreng, nugget dan tempe. Pun saling pemberian souvenir. Alquran, buku, kue lapis, air mineral, kupat, dan makanan cepat saji.

Menjelang matahari sepenggalan naik menuju TMII. Bioskop keong mas sasarannya. Lalu ishoma. Tahu dan manisan. Sambil sewa sepeda 3 pengayuh. Biar tubuh tetap bugar.

Puas menikmati TMII, terus ke Istiqlal lagi. Salat asar. Naik bis tingkat transjakarta gratis. Sopir humoris. Juga kereta keliling monas. Masinis perempuan. Ide dari gubernur Anies Baswedan.

Rombongan agak nyaman. Berbaur aparat keamanan. Tentara dan polisi. Menjaga sidang sengketa pilpres. Mudah-mudahan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saatnya berpisah dengan keluarga Nurali di halte city tour. Berpelukan dengan ibu tercinta. Hingga dihampiri bis pariwisata MDC Trans.

Awalnya jalanan lancar. Kemudian macet di Karawang. Pengerukan aspal dan ada truk terperosok. Subuh di Subang. Pipis di Batang. Antrenya panjang. Maklum masih taraf penyempurnaan.

Di masjid Semarang menurunkan penumpang. Yaitu Hariyani dan keluarga yang mau sowan ke Solo. Sedang alumni lain jamak qasar duhur asar di Kudus. Kamar mandi dan toilet sangat bersih. Itulah separoh iman. Namun sering diabaikan.

Rupanya perjalanan masih panjang. Demi mengutamakan keselamatan, sopir tidak ugal-ugalan. Akhirnya Kamis tengah malam, sampailah di rumah juga. Sehat wal afiat serta disambut dengan gembira.

*Penulis buku Guru yang Dirindu. Kepala SMP Muhammadiyah 5 Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here