Cermin Diri #65: Ingin Terbaik Jangan Picik

0
320
Ilustrasi diambil dari WebMovie

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

Wow kok bisa! Terperangah aku baca berita internasional. Jawa Pos selasa 26 Maret 2019. Guru sekolah Desa Pwani, Propinsi Rift Valley Kenya terbaik di dunia. Bikin penasaran. Siapa dia? Bagaimana kesehariannya? Mengapa bukan dari PGRI? Atau ustadz di madrasah?

Peter Tabichi namanya. Dia menerima piala pada malam penghargaan Global Teacher Prize 2019 di Dubai. Diapit Putra Mahkota Hamdan dan aktor Hollywood Hugh Jackman. Walau menjadi lakon utama, dia tampil bersahaja. Bersikap rendah hati dan memilih hidup bersama orang miskin.

Baginya yang mengantarkan ke puncak kompetisi, mengalahkan 10 ribu kandidat dari 179 negara, dan dihadiahi 11 miliar adalah anak didiknya. Sebanyak 95 persen ialah siswa miskin. Sepertiga yatim piatu. Belum lagi dihantui kehamilan saat remaja, putus sekolah, dan narkoba.

Tabichi merelakan 80 persen gajinya untuk mendanai kegiatan siswa. Membentuk klub sains. Menggunakan information and communication technology (ICT). Menurutnya guru tak boleh sekedar menjelaskan buku pelajaran.

Perlahan-lahan lelaki alumnus Egerton University sekaligus biarawan tersebut berhasil mengurai semua permasalahan dalam kurun 12 tahun. Nah bandingkan dengan apa yang sudah kita lakukan.

Bisa jadi sudah lebih 12 tahun kita mengabdi. Belum pernah prestasi. Beribu alasan dijadikan alibi. Seperti karena berada di pelosok. Jauh dari tekhnologi dan informasi. Sarana prasarana tak memadai.

Lebih parah lagi kita lantas mengajukan mutasi. Dari sekolah terpencil ke city. Lantaran lebih ramai dan enjoy. Pun gampang beli kebutuhan sehari-hari.

Namun soal gaya selalu trendi. Pakaiannya lebih dari satu lemari. Sehari bisa ganti beberapa kali. Kusam sedikit saja tidak dipakai. Karena kebahagiaan terletak pada ragawi.

Di saat diadakan penilaian kinerja pucat pasi. Ditunjuk ikut lomba tak percaya diri. Merasa rendah diri di hadapan penguji atau juri.
Kemudian dibilang miskin gengsi. Sama anak yatim benci. Sebab dianjurkan menyantuni. Tapi saat diberi subsidi girang sekali.

Jumlah muridnya sedikit malu. Kegiatan pembelajaran sambil lalu. Sering terlambat dan buang waktu. Ditugasi menangani anak nakal tambah mengeluh. Kadang jarang disentuh. Maunya mendidik murid yang sudah patuh.

Kemauan dituruti. Giliraran dibina agar meningkatkan mutu, tak henti-hentinya menggerutu. Akibatnya pengelolaan kelas kacau balau. Lagian, jangankan menyumbang. Bayar zakat 2.5 persen saja berat. Tatkala gaji telat, dipastikan mengomeli para pejabat. Demikian pula jika tunjangan profesi tersendat.

Dari perbandingan di atas, dapat ditelusuri bahwa Tabichi telah mengamalkan isi Al Quran. Seperti hidup sederhana, menyantuni anak yatim, dan orang miskin. Walau dia bukan orang Islam. Sehingga mampu menjadi pemenang. Sedangkan kita sebagai pemilik kitabullah, hanya sekedar dijadikan pajangan. Sesekali dibaca pada bulan Ramadan.

Semestinya carilah ilmu pengetahuan, perluas pandangan dan jernihkan pikiran serta tingkatkan pengamalan kita terhadap mukjizat Nabi Muhammad. Mumpung tahun pelajaran baru. Alias awal sekolah. Jangan bersikap picik. Pengetahuan pas-pasan. Pandangannya sempit. Pikirannya dangkal. Malas beramal. Ya jelas tertinggal.

*Penulis buku Guru yang Dirindu. Kepala SMP Muhammadiyah Karanggeneng Lamongan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here