Cermin Diri #66: Sosok Numani Gigih

0
193
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Tahun 2005 silam, aku diterima sebagai guru bantu SMP. Pemerintah Daerah memberi kebebasan memilih sekolah yang dikehendaki. Kucari yang paling dekat dan mudah dijangkau serta islami. Kepala sekolahpun menyetujui dengan senang hati.

Awal Januari aku mulai tugas mengelola kelas. Begitu masuk aku dihadapkan dengan sekitar dua puluh delapan siswa. Hatiku tercekat. Begitu banyak anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Tatapan mata murid-murid berusia 13an tahun itu langsung membuatku jatuh cinta seketika. Satu per satu kuhampiri dan kubelai rambutnya.

Kuberalih ke bangku terakhir yang di ujung. Hatiku mau jatuh ke lantai tatkala melihat yang duduk di atasnya. Airmataku menetes sedemikian derasnya sampai aku gak bisa melihat jelas.

Gadis itu aku namai Numani. Ia cantik sekali ! Matanya bulat. Bibirnya merah. Dan bulu matanya sangat panjang. Senyumnya menawan. Tulisannya halus dan rapi.

Tapi ia menderita epilepsi. Atau penyakit ayan. Sering kejang-kejang bila ada gangguan. Bahkan menggelepar di halaman sambil memukuli tubuhnya.

Mengapa sampai terjadi demikian ? Tanyaku dengan hati tak karuan.

Beberapa informasi menyebutkan, ibunya kaget saat sedang menyusuinya tiba-tiba diceraikan. Adapula yang bilang karena sering mengalami kekerasan dari ayahnya yang dulu suka mabuk-mabukan. Selain itu pernah dipukul oleh oknum pengajar di Sekolah Dasar.

Aku cuma bisa menggenggam tangan Numani dengan hati patah. Kasihan sekali kau sayang. Jahat sekali sih orang-orang itu ! Sadis bin kejam.

Sejak itu setiap mengajar Numani aku harus ekstra hati-hati. Pendidik lain berkomentar bahwa Numani gak bisa apa-apa sama sekali. Dan seperti tidak punya emosi. Kalau nangis pun lirih tanpa ada suara. Mereka sudah putus harapan.

Sementara menurutku tiada hari tanpa Numani. Kusiapkan jam khusus untuk perbaikan maupun pengayaan. Aku yakin ia bakal berubah.

Di tahun ke-3 aku dapat hadiah yang tidak terkira berharganya. Ya Allah! Numani lulus ujian. Aku seperti tak percaya.
Aku merasa orang yang paling bahagia di dunia. Kuusap kepalanya sambil berkata, “semoga engkau jadi anak salihah, berbakti pada orangtua, dan sabar atas cobaan yang mendera.”

Selepas itu Numani melanjutkan ke SMA. Aku jadi putus komunikasi dengannya. Apalagi aku bukan pengajar di sana.

Namun aku berupaya mencari kabar dari rekan kerja. Numani sudah meninggal bulan kemarin. Dia jatuh ke sumur saat mau mencuci. Memang mematikan bagi penderita epilepsi yang kambuh di dalam air.

Aku terdiam. Lalu tersedu seraya berucap “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”.
اَللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Ya Allah, lindungilah dia dari siksa kubur.

Selanjutnya aku merenung. Apa tujuan dia dilahirkan di dunia? Hanya Allah yang maha tahu.

Tetapi dia menciptakan begitu banyak kebahagiaan di dalam hari-hariku. Aku merasa beruntung pernah bertemu dengannya.

Numani hadir untuk menjadi guruku. Sebagai inspirasi menulisku. Allah sayang padanya sehingga dipanggil diusia remaja. Di satu sisi aku bersyukur, Numani tidak menderita lagi.

*Penulis buku Guru yang Dirindu. Kepala SMP Muhammadiyah 5 Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here