Cermin Diri #67: Oh Menungso, Dikau Makhluk Terindah

0
233
Foto diambil dari koleksi pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Pada Selasa malam, kepala desa mengundang warga. Keperluan membentuk panitia Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Peserta yang hadir yaitu 8 perangkat desa, 20 ketua RT, sejumlah Karang Taruna, sesepuh dan seorang tokoh agama (toga).

Musyawarah mufakat menyetujui toga sebagai ketua panitia. Lantas memimpin rapat melengkapi pembantunya, program kerja, dan anggaran.

Melalui diskusi yang alot, Karang Taruna menghendaki orkes. Sementara sesepuh ingin wayang. Adapun pemerintah usul diadakan karnaval. Sebagian kecil RT mau salawatan (pengajian).

Giliran menyusun anggaran pendapatan dan belanja, makin runyam. Kas desa agak menipis. Pak RT enggan minta sumbangan ke warga. Karena musim hama. Puso alias gagal panen.

Di samping itu sulitnya pemahaman tentang seni budaya. Bahwa kebudayaan seperti wayang, orkes, dan karnaval bertentangan dengan syariat. Sebab bagi orang awam wayang mengandung kemusyrikan. Orkes mengandung unsur maksiat. Karnaval dengan membuat patung itu pemborosan. Mending untuk bangun masjid atau madrasah.

Maka dari itu ketua panitia, yang sehari-harinya sebagai guru, imam dan penceramah berupaya bijak. Sekaligus memaksa pria bersarung, berbaju taqwa dan berpeci membaca berulang-ulang buku pedoman seni dan budaya Islam. Pagi, siang dan malam.

Kesimpulan pertama, bahwa menurut fitrah dan kodratnya seni budaya ada dan melekat pada diri manusia sejak lahir. Kemampuan spiritual (karsa) intelektual (cipta) dan emosional (rasa). Karsa memberikan arah beribadah. Cipta untuk menemukan cara hidup yang mudah. Rasa memberikan keindahan.

Kedua, hukum Islam tentang kesenian adalah boleh. Sejauh tidak ada larangan. Bahkan wajib kifayah kalau untuk dakwah. Misalnya mengaji atau membaca alquran dengan sangat indah sehingga orang masuk Islam. Seperti Umar bin Khattab.

Sama halnya saat karnaval bikin patung dan gambar makhluk bernyawa. Asal bukan disembah, tapi untuk pendidikan dan pencatatan sejarah serta kepentingan administrasi hukumnya mubah.

Perihal wayang merupakan kebudayaan yang mulanya bertentangan dengan syariat. Para walisongo telah memodifikasi isi cerita dengan ajaran Islam. Sehingga membuat pencerahan peradaban dan tidak menyebabkan perpecahan serta pemborosan.

Sedangkan tari, nyanyi dan musik termasuk kategori muammalah duniawiyah. Asasnya adalah segala sesuatu itu pada dasarnya boleh sampai ada dalil yang melarang. Umpamanya menampakkan aurat dan mendekati zina.

Secuil gambaran sederhana di atas boleh dianggap keterbatasan usaha seseorang yang merangkap tiga fungsi. Yakni agamawan, ilmuwan dan seniman.

Semoga tugas tersebut menjadikan kita sebagai makhluk yang terindah dan harus berbuat indah. Sebagaimana Allah telah berbuat indah pada makhluk-Nya. Alquran surat al qasas ayat 77.

*Penulis buku Guru yang Dirindu dan kepala SMP Muhammadiyah 5 Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here