Cermin Diri #68: Timpang Namun Terpandang

0
123
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Aku terkesima menjadi makmum dari seorang imam timpang. Tak seimbang jalannya. Sambil duduk di kursi lipat terbuat dari plastik. Pada sebuah musalla. Dalam jamaah subuh, duhur, asar, magrib dan isyak.

Lalu aku membuka buku Abdul Munir Mulkhan. Berjudul masalah-masalah teologi dan fiqih dalan tarjih Muhammadiyah. Boleh saja kita mengangkat imam buta. Atau cacat fisik dan hamba sahaya.

Dasarnya ialah hadis dari Anas. Bahwa Nabi SAW menguasakan kepada Ibnu Ummi Maktum. Mengimami penduduk Madinah dua kali. Padahal beliau buta.
Selain itu dari Ibnu Umar. Yakni ketika orang-orang Muhajirin yang pertama-tama sampai di Usbah Quba, sebelum kedatangan Nabi SAW. yang mengimami mereka adalah Salim. Hamba sahaya Abu Hudzaifah.

Syaratnya pertama yaitu ia yang lebih ahli dalam membaca Quran. Kedua yang lebih mahir dalam hal sunnah. Ketiga yang lebih dahulu masuk Islam. Keempat yang lebih tua umurnya. Menilik hadis Abu Mas’ud.

Setelah itu dalam tasyakuran, kebetulan aku bersanding dengan imam salat jamaah tersebut. Maka kuberanikan diri bertanya. Ia pun lalu bercerita dengan gamblang tanpa tekanan.

Dulu ia adalah seorang sopir. Saat sedang memuat kelapa sawit 20 ton, truknya mogok di sekitar pelabuhan. Segera ia turun. Masuk kolong truk untuk memperbaikinya.

Naas truknya tersenggol prahoto. Yang juga mengangkut barang lebih berat lagi. Truk melaju tanpa kemudi. Ia berusaha menyelamatkan diri. Tapi kedua telapak kaki keburu terlindas truk sendiri. Tungkainya remuk dan harus dioperasi.

Agar bisa memenuhi kebutuhan, disarankan memakai kursi roda. Seseorang menawarkan bantuan. Ketepatan milik bapak mertuanya masih laik dimanfaatkan.

Namun lukanya tak kunjung sembuh. Bahkan cenderung memburuk. Andaikan sembuh tetap tak bisa jalan. Karena tulangnya sudah keropos.

Padahal ia adalah calon jamaah haji. Kemudian sepulang haji, dokter merekomendasikan harus diamputasi. Pihak keluargapun menyetujui.

Berbekal kaki palsu dan bantuan tongkat, ia belajar jalan. Ke sekeliling rumah sambil olahraga. Sembari ke musalla untuk beribadah.
Sungguh luar biasa. Sebab adakalanya orang sehat dan organ tubuhnya sempurna, malah berat melangkah ke masjid. Kendati jaraknya sangat dekat.

Sehubungan kesehatan berangsur seperti sediakala, ia mantapkan memakmurkan musalla di depan rumahnya. Ia tak canggung menyapu. Kadang mengumandangkan adzan. Hingga memimpin salat berjamaah. Sekaligus memandu berzikir dengan seksama.

Sesudah itu mengaji tanpa kenal lelah. Ia merupakan teladan orang yang lulus ujian tatkala ditimpa musibah. Ia sama sekali tidak menyalahkan Tuhan. Justru semakin mesra dengan-Nya.

Cobaan berikutnya melanda. Istri yang setia merawatnya meninggal dunia. Ia sabar dan tawakal. Diiringi kepergiannya ke kuburan dengan berjalan susah payah.

Kini ia harus melayani diri sendiri. Karena keturunannya telah berkeluarga dan merantau ke tempat yang jauh bersama suaminya.

Lain dari itu ia mesti berjibaku merawat ibunya yang renta dan rewel seperti balita. Ia tak putus asa dan bertekad terus berkarya untuk mencari nafkah.

Pekarangan yang luas dan sebagian digenangi air, disulap menjadi tambak. Diisi ikan nila dan bader serta mujaer. Plus beternak bebek.

Aku dapat ilmu baru. Menurut beliau, bebek betina mampu bertelur tanpa pejantan tangguh. Cuma telur tersebut tak bisa menetaskan anak bebek yang lucu-lucu.

Pun aku termangu. Pekerjaan barunya berwirausaha tak menyurutkan ketekunannya mendirikan salat tepat waktu. Lantaran manfaatnya sangat jitu. Walaupun persendiannya amat kaku. Sehingga sulit duduk di antara dua sujud dan tasyahud secara tumakninah. Oleh karena itu cacat tubuh jangan dibuat alasan mangkir dari kewajiban sebagai kaum beriman.

Lebih dari itu pada sebagian malam ia salat tahajud sebagai ibadah tambahan. Makanya Tuhan mengangkat derajatnya ke tempat yang terpuji. Menjadi imam yang terpandang. Disegani dan dihormati orang di kampung halaman.

*Penulis buku Guru yan Dirindu. Tinggal di Takerharjo Solokuro dan mengajar SMP Karanggeneng Lamongan serta alumni UIN Malang dan UMM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here