Cermin Diri #7: Melawan Kebencian Seharian

0
57
Foto api melahab kayu bakar diambil dari gramix.com

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Namaku hasad hasud. Panggilanku iri dan dengki. Termku disebutkan dalam QS. Al Baqarah:109, An Nisa: 54, Al Fath: 15 dan Al Falaq: 5. Arti namaku adalah seseorang yang menginginkan hilangnya kesenangann yang dimiliki orang lain dan berusaha memindahkannya pada diriku. Jadi aku senang melihat orang susah. Sebaliknya susah melihat orang lain senang. Walaupun ia merupakan keluargaku dan sahabatku sendiri. Seperti pengalaman berikut ini.

Pada suatu malam beberapa orang menginap di rumahku. Tidurku menjadi terganggu. Jadinya tak bebas melakukan sesuatu. Belum lagi jika mereka berisik dan bergurau. Semalaman menghidupkan kipas dan lampu. Kamarku berantakan tak menentu. Selimut dan bantal gulingku bau. Ingin mengusirnya, tapi malu dan tak mampu.

Pagi harinya, jangankan membersihkan kamar tidurku. Atau menyapu isi dan halaman rumahku. Membantu menyiram bunga dan mencuci serta menggosok baju sendiripun tak mau. Kebenciianku semakin utuh.

Kemudian saat sarapan, seringkali berebutan, tak mau ketinggalan dan tak pernah mengeluarkan uang. Hanya mengharapkan pemberian. Padahal uangnya jutaan. Bisa membeli perabotan dan kendaraan. Kedengkianku tak tertahankan.

Siang hari remote televisi dikuasai. Kami harus mengalah beberapa kali. Sewaktu rusak tak siap memperbaiki. Tagihan listrik sangat tinggi. Mereka tak peduli. Sehingga sakitnya tuh di sini.

Menjelang petang mereka pulang. Setelah mandi dan perutnya kenyang. Menyisakan makanan dan meninggalkan barang bergeletakan sembarangan atau berserakan. Kepala pusing nyut-nyutan, mempercepat tumbuhnya rambut beruban.

Begitulah contoh ulah jahatku dalam kurun 24 jam. Bayangkan bila sampai berbulan-bulan. Pasti habislah semua kebaikan dan hilanglah kebagiaan serta ketenangan yang selama ini dirasakan.

Tapi aku bisa dicegah agar tak merajalela. Caranya adalah berlindunglah pada kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menguasai shubuh, dan manusia. Setiap hendak beribadah, berusaha dan berdoa.

Selanjunya berfikirlah positif terhadap yang kau alami. Jangan merasa terbebani jika rumah disinggahi. Itu berarti rumah tersebut umpama surga dunia alias baiti jannati. Maksudnya rumah agar tidak bagaikan kuburan yang sepi. Pun tidak menjadi incaran pencuri.

Berikutnya, yakini bahwa menjaga kebersihan bagaikan dari iman. Hindari menggantungkan teman. Supaya pekerjaan sesuai harapan. Lingkungan sekitar terasa nyaman. Kelak mereka akan melakukan hal yang sama bilamana kita tak sanggup mengerjakan. Beruntung kita masih diberi kesehatan. Sehingga bisa bersih-bersih, menyapu, menyirami, mencuci dan menyeterika pakaian.

Turuti kata hati, hanya memberi tak harap kembali. Orang yang memberi lebih baik daripada orang yang diberi. Memberi jangan menunggu harta berlebih. Terutama fakir miskin dan orang yang terdzalimi. Sedih rasanya bila sudah susah payah memasak, tak seorangpun yang ingin menikmati. Jadi berbahagialah bila habis nasi yang kita miliki daripada basi.

Buanglah anggapan bahwa mengalah berarti kalah dan terhina. Bersyukurlah benda elektronik yang kita punya bisa berguna. Untuk menghibur dan bergembira bersama keluarga tercinta. Daripada dirundung duka, tak ada canda dan tawa.

Siapapun yang datang di kediaman, perlakukan sebagai tamu kehormatan. Berikan layanan prima sekaligus memuaskan. Agar mereka kerasan, berkesan dan terkenang sepanjang zaman. Sabda Nabi Saw:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah mencintai saudaranya melebihi diri sendiri dan juga memuliakan tamunya”.

Demikianlah sedikit kiat melawan kebencian (hasud, iri, dengki) yang terjadi dalam kehidupan seharian. Pendek kata jangan sesekali menyesal dan merasa rugi beriman dan berbuat kebajikan.

*Sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here