Cermin Diri #71: Minta Maaf Jangan Sungkan

0
213
Foto diambil dari Ngopibareng.id

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Maaf adalah kata sederhana yang sulit diucap. Alasannya gengsi, takut, atau sungkan. Agar tak sungkan minta maaf, perlu kebeningan jiwa dan ilmu.

Setiap muslim wajib menuntut ilmu. Termasuk ilmu minta maaf yang sangat bermanfaat. Bisa diperoleh dari siapapun, di manapun dan kapanpun. Tak terbatas dari bayi dan anak. Pun tak cukup dari sekolah dan media.

Malam bulan purnama itu kuluangkan waktu menyambung tali kekerabatan. Memelihara hubungan silaturrahim. Di sana telah berkumpul para ibu beserta buah hatinya. Kebanyakan adalah batita. Bayi umur tiga tahun. Mereka berteman. Bersenda gurau. Tapi seringkali berebut mainan. So pasti selalu berakhir dengan tangisan. Kadang mengalami luka ringan sampai sedang. Memar contohnya.

Seluruh ibu memakluminya. Atas perilaku putra putrinya. Kemudian mereka dibimbing agar minta maaf. Sebab saling memaafkan amat dicintai Allah dan Rasulullah.

Setelah agak lama, mereka mau berjabat tangan. Berpelukan. Tertawa lepas. Tak ada dendam. Walau sesudah itu bertengkar kembali. Tapi tidak sampai memutuskan hubungan kekeluargaan. Lantaran bisa dilaknat, ditulikan telinga dan dibutakan matanya. Itulah ilmu berharga pertama yang kudapatkan.

Ilmu manfaat kedua ialah di kelas tujuh. Siswa bersemangat mengikuti materi to say sorry. Saat matahari sepenggalan naik. Dengan nyaring suara pak guru ditirukan. “From now on, I will always say sorry when I make a mistake.” Lantas disalin dalam buku catatan.

Dari sekarang ia janji. Mengucapkan sorry sepenuh hati. Ketika membuat kesalahan. Misalnya terlambat, memecahkan kaca, menghilangkan buku, tidak ikut pelajaran, tidak mendatangi undangan dan lupa mengerjakan tugas.

Minta maaf lahir batin jangan menunggu hari raya. Lakukan sesegera. Demikian perintah Alquran surat Al Imran 132-134.

Menurut status suamiku surgaku dan istriku bidadariku, salah satu kunci bahagia keluarga ternyata buruan minta maaf. Sebagaimana yang kubaca dalam sosial media tatkala siang terang benderang. Itulah ilmu ketiga yang kutuntut.

Kini aku tahu, jika merasa bersalah jangan pernah merasa sungkan untuk mengakui dan meminta maaf. Apalagi malah menyalahkan orang lain. Sebaliknya bila kita yang disakiti jangan enggan memaafkan. Sebagai tanda orang bertakwa. Baginya surga seluas langit dan bumi.

Pengetahuan yang kuserap di atas, mesti kupraktekkan dan kutularkan. Setidaknya melalui tulisan. Karena aku yakin seyakin-yakinnya. Allah akan meninggikan orang-orang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

*Penulis buku Guru Yang Dirindu penerbit Istanbul 2019. Pendidik di SMPN Karanggeneng Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here