Cermin Diri #72: Pesta Selama Zulhijah

0
218
Foto diambil dari Liputan Plus

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Zulhijah adalah bulan ke-12 tahun Hijriah. Kalender Jawa menamainya Besar. Terdiri dari 29 hari. Dalam Alquran surat At Taubah ayat 36 disinggung sebagai bulan yang dimuliakan. Arba’atun hurum.

Makanya tidak aku sia-siakan. Kuisi dengan amalan wajib maupun sunnah. Sejak tanggal 1, aku tak potong kuku dan rambut. Kecuali kalau panjang dan kotor. Mengikuti pendapat Imam Nawawi. Yakni agar seluruh tubuhku kelak diselamatkan dari api neraka.

Selanjutnya secara bahasa Zulhijah berarti yang empunya haji. Nabi terbiasa haji pada tanggal 8, 9, 10. Berhubung aku belum dapat panggilan ke Baitullah, sehingga turut memberikan doa pada saudaraku yang menunaikannya. Menjadi haji yang mabrur.

Kemudian tanggal 9 aku berniat puasa arafah. Sebab aku tidak sedang berihram haji atau wukuf di Arafah. Berdasarkan dalil dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah bersabda: “Puasa hari Arafah menghapus dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.”

Di samping itu dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).

Lalu tanggal 10 kupakai pakaian bersih, rapi dan wangi. Meski tidak baru dan mahal. Pun tidak makan dari terbit fajar hingga usai salad id.

Setelah itu berkiprah menyembelih hewan kurban. Sejumlah 94 kambing dan 6 ekor sapi di lapangan desa. Sekira asar menimbang dan menyalurkan ke 1.315 rumah warga. Masing-masing memperoleh 2 kg.

Esoknya tanggal 11 aku baru berkurban di tempat lain. Sembari pembelajaran pada siswa. Waktu menyembelih memang ditetapkan sejak selesai salat id sampai terbenam matahari tanggal 13. Untuk mendekatkan diri kepada Allah atas nikmat-Nya yang banyak. Hal itu terdorong hadis riwayat Tirmidzi ” Bagi orang yang berkurban, setiap bulu hewan kurban adalah kebaikan.”

Selebihnya Ibnu Majah meriwayatkan “Tidak ada amalan yang lebih baik pada idul adha kecuali kurban. Pahalanya sudah sampai kepada Allah sebelum darah hewan sembelihan jatuh ke tanah.”

Pada Zulhijah jua kudatangi beberapa walimah. Jamuan makan. Pesta nikah, khitan, dan kemerdekaan. Mendatangi undangan tersebut adalah kewajiban. Sementara mengadakan walimah hukumnya sunnah. Bukhari meriwayatkan “Adakan walimah walaupun dengan menyembelih kambing.” Dalam rangka supaya tetangga dan kerabat serta orang tidak mampu ikut senang sekaligus memberikan doa restu.

Tanpa pemberitahuan terlebih dulu aku ketiban pulung. Diamanahi memberi kata sambutan. Tak lupa kusampaikan dakwah amar makruf nahi mungkar. “Sesungguhnya dalam pelaksanaan walimah mohon disesuaikan dengan kemampuan. Tidak memaksakan diri, boros, dan berakhir menyesal. Bahkan jangan sampai yang diundang hanya orang-orang yang berada saja. Ingat! Sejelek-jelek jamuan makan ialah apabila yang diundang orang kaya dan dibiarkan orang-orang miskin.”

Demikian keinginan dan pencapaianku. Berpesta selama Zulhijah. Semoga di bulan dan tahun mendatang semakin baik.

Lamongan, 25 Agustus 2019

*Guru MA Muhammadiyah 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here